
A. Pengertian Syirik
Ahlus Sunnah wal Jama’ah
sepakat bahwa syirik merupakan bentuk kemaksiatan yang paling besar kepada
Allah Azza wa Jalla, syirik merupakan sebesar-besar kezhaliman, sebesar-besar
dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengetahui
tentang syirik dan berbagai macamnya merupakan jalan untuk dapat menjauhi-nya
dengan sejauh-jauhnya.
Syirik adalah menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala
dengan selain-Nya dalam hal ibadah, seperti berdoa, beristighatsah, bernadzar,
shalat, puasa, atau mempersembahkan hewan sembelihan kepada berhala-berhala
maupun selainnya. Misalnya, menyembelih hewan yang dipersembahkan kepada
Syaikh al-Badawi dan ‘Idrus, shalat yang dipersembahkan kepada si fulan, dan
meminta pertolongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
‘Abdul Qadir, ‘Idrus di Yaman, orang-orang yang sudah mati ataupun orang yang
tidak berada di tempatnya. Semua perbuatan ini disebut kesyirikan.
Demikian pula, apabila seseorang berdoa,
ber-istighatsah, meminta pertolongan kepada bintang-bintang dan
jin, atau mengerjakan perbuatan-perbuatan kesyirikan lainnya. Oleh karena itu,
jika ia melakukan salah satu jenis ibadah tersebut, tetapi ditujukan kepada
benda-benda mati, orang-orang yang sudah mati ataupun orang yang tidak berada
di tempatnya, maka semua perbuatan ini termasuk menyekutukan Allah
Secara etimologi, syirik berarti persekutuan yang terdiri dari dua atau lebih yang disebut
sekutu. Sedangkan secara terminologi, syirik berarti menjadikan bagi Allah
tandingan atau sekutu. Definisi ini bermuara dari hadis Nabi tentang dosa
terbesar,
أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهْوَ خَلَقَكَ
“…Engkau menjadikan
sekutu bagi Allah sedangkan Dia yang menciptakanmu.( HR. Bukhari: 7520, dan Muslim: 86)
Sebagian ulama membagi makna syirik menjadi makna umum dan
makna khusus. Bermakna umum, jika menyekutukan Allah di dalam peribadahan hamba
kepada-Nya (uluhiyyah),
menyekutukan-Nya di dalam perbuatan-Nya (rububiyyah), nama-Nya, dan sifat-Nya (al-asma’ wa ash-shifat).
Akan tetapi, jika disebutkan
secara mutlak, syirik berarti memalingkan suatu ibadah kepada selain
Allah. Dan inilah makna syirik secara khusus. Sebagaimana tauhid bermakna
mengesakan Allah -dalam ibadah- jika disebut secara mutlak. Karena kesyirikan
jenis inilah yang diperangi oleh Rasulullah semasa hidup beliau. Bahkan,
kesyirikan pertama yang terjadi di muka bumi ini disebabkan oleh penyelewengan
dalam beribadah kepada selain Allah yang telah menimpa kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam.
Diriwayatkan bahwa di zaman Nabi Nuh terdapat beberapa
orang saleh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kepada manusia-manusia
setelah mereka untuk mendirikan patung orang-orang saleh tersebut dan
menamakannya dengan nama-nama mereka. Hal itu bertujuan untuk membuat mereka
semangat dalam beribadah tatkala melihat patung tersebut.
Kala itu tiada seorang pun yang menyembah patung itu. Akan
tetapi, ketika generasi pembuat patung wafat dan manusia berada di dalam
kungkungan kebodohan, maka generasi setelahnya menjadikan patung-patung
tersebut sebagai sesembahan. Mereka telah menduakan Allah dan itulah
sebesar-besar dosa.
B. Ancaman Bagi
Orang Yang Berbuat Syirik
1. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengampuni
orang yang berbuat syirik kepada-Nya, jika ia mati dalam kemusyrikannya dan
tidak bertaubat kepada Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ
مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا
عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah (berbuat syirik), maka
sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An-Nisaa’: 48] Lihat juga
[An-Nisaa’: 116].
Asbabun Nuzul Indonesia
Depag Surah An-Nisaa' 48
Ibnu Abu Hatim dan
Thabrani mengetengahkan dari Abu Ayub Al-Anshari, katanya, "Seorang
laki-laki datang kepada Rasulullah saw., lalu katanya, 'Saya mempunyai seorang
anak saudara laki-laki yang tidak henti-hentinya mengerjakan yang haram.' Tanya
Rasulullah, 'Apa agamanya?' Jawabnya, 'Dia melakukan salat dan mengesakan
Allah.' Sabda Rasulullah, 'Mintalah agamanya itu kepadanya, dan kalau dia
berkeberatan, maka belilah!' Laki-laki itu pun melakukan sebagaimana yang
diperintahkan Rasulullah tadi, tetapi keponakannya itu menolak. Maka kembalilah
laki-laki itu kepada Rasulullah, katanya, 'Saya lihat ia amat fanatik sekali
kepada agamanya.' Maka turunlah ayat, 'Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni
dosa orang yang mempersekutukan sesuatu dengan-Nya dan Dia akan mengampuni dosa
selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.'" (Q.S. An-Nisa
48)
2. Diharamkannya Surga bagi orang musyrik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ
بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ
وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka
pasti Allah mengharamkan Surga kepadanya, dan tempatnya adalah Neraka, tidaklah
ada bagi orang-orang zha-lim itu seorang penolong pun.” [Al-Maa-idah: 72]
3. Syirik menghapuskan pahala seluruh amal kebaikan.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka
amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’aam: 88]
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ
الْخَاسِرِينَ
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-nabi)
sebelummu: ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan
tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” [Az-Zumar: 65]
Dua ayat ini menjelaskan barangsiapa yang mati dalam keadaan musyrik,
maka seluruh amal kebaikan yang pernah dilaku-kannya akan dihapus oleh Allah,
seperti shalat, puasa, shadaqah, silaturahim, menolong fakir miskin, dan
lainnya.
4. Orang musyrik itu halal darah dan hartanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ
وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ
“…Maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana saja kamu jumpai mereka, dan
tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian…” [At-Taubah:
5]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا
الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ، عَصَمُوْا مِنِّي
دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى
اللهِ تَعَالَى.
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai
mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang diibadahi dengan benar
melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat,
dan membayar zakat. Jika mereka telah melakukan hal tersebut, maka darah dan
harta mereka aku lindungi kecuali dengan hak Islam, dan hisab mereka ada pada
Allah Azza wa Jalla.”[8]
Syirik adalah dosa besar yang paling besar, kezhaliman
yang paling zhalim dan kemunkaran yang paling munkar.
C.
Contoh perbuatan syirik
Syirik di dalam ibadah (uluhiyyah)
Syirik di dalam uluhiyyah Allah
bermakna menyekutukan Allah di dalam ibadah. Atau dengan arti lain
menyelewengkan ibadah kepada selain Allah. Ini adalah definisi syirik ketika
penyebutannya bersifat mutlak. Karena kesyirikan ini yang paling menjamur, dan
parahnya, tidak banyak orang yang menyadari akan hal itu. Betapa banyak manusia
menduakan Allah di dalam penghambaan dirinya tanpa mereka sadari.
Termasuk ibadah di antaranya adalah
salat, zakat, puasa, sembelihan, sumpah, doa, istigasah, cinta, takut, harap,
dan segala bentuk peribadahan seorang hamba kepada Allah. Oleh sebab itu,
termasuk bentuk kesyirikan ketika seseorang menyembelih kurban untuk jin
semisal sesajen, berdoa meminta pertolongan kepada orang mati, atau
penyelewangan ibadah lainnya kepada selain Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ
أَحَدًا
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu ialah milik Allah.
Maka janganlah kalian menyembah sesuatu pun di dalamnya selain Allah.” (QS.
Al-Jinn: 18)
Syirik di dalam perbuatan Allah (rububiyyah)
Syirik di dalam rububiyyah Allah berarti meyakini
adanya selain Allah yang melakukan perbuatan-perbuatan Allah. Atau menyamakan
makhluk dengan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan rububiyyah-Nya.
Misalnya, memercayai adanya sang pencipta selain Allah, pemberi rezeki, penurun
hujan, dan pengatur alam semesta.
Syirik jenis ini umumnya sedikit. Karena kaum kafir
Quraisy yang diperangi oleh Rasulullah pun meyakini tauhid jenis ini. Allah
Ta’ala berfirman,
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ
الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ
فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah wahai Muhammad, ‘Siapakah yang memberi
kalian rezeki dari langit dan bumi? Siapakah yang menguasai pendengaran dan
penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan
mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Siapakah yang mengatur segala urusan?’
Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakan, ‘Lantas mengapa kalian tidak
bertakwa?” (QS. Yunus: 31)
Syirik di dalam nama dan sifat-Nya (asma’ wa shifat)
Syirik di dalam al-asma’ wa ash-shifat bermakna
menjadikan sekutu bagi Allah, baik itu di dalam salah satu nama-Nya, atau salah
satu sifat-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah
yang Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. Asy-syura: 11)

