TAFSIR AL-QUR'AN:
TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Ayat Ke-69
ومَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآَنٌ مُبِينٌ
Arti Kalimat: dan tidaklah Kami mengajarkan kepadanya (Nabi Muhammad) syair, dan hal itu tidak mungkin baginya. Tidaklah itu melainkan peringatan dan bacaan yang jelas.
☝️ Dalam ayat ini Allah mensucikan Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam dari celaan dan tuduhan orang-orang Musyrikin Quraisy bahwa beliau adalah penyair, bahwa al-Quran adalah untaian syair (Tafsir as-Sa’di).
Pembelaan Allah dan bantahan bahwa Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah penyair, seperti disebutkan dalam ayat yang lain:
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ
Dan bukanlah dia (al-Quran) sebagai ucapan penyair. Sedikit orang yang beriman (Q.S al-Haaqqah ayat 41).
Keindahan dan mukjizat al-Quran yang luar biasa membuat orang-orang Kafir Quraisy kebingungan dalam menolaknya. Tidak ada satu kalimat yang tegas dalam mendefinisikan apa al-Quran itu di sisi mereka. Kadang kala mereka menyebutnya sebagai sihir, kadangkala sebagai mimpi kosong, kadangkala sebagai ‘suatu yang diada-adakan’, kadangkala sebagai syair.
بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ
Bahkan mereka berkata: Itu adalah mimpi kosong, (sebagian berkata) bahkan itu adalah sesuatu yang diada-adakan, (sebagian lagi berkata): bahkan dia (Muhammad) adalah penyair… (Q.S al-Anbiyaa’ ayat 5).
Ejekan dan celaan orang-orang Kafir tersebut bahwa Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah penyair, juga disebutkan dalam ayat yang lain:
أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ
Ataukah mereka berkata: (dia) adalah penyair. Kita menunggu datangnya kematiannya (Q.S atThuur ayat 30).
وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ
dan mereka berkata: Apakah kita akan meninggalkan sesembahan-sesembahan kita karena penyair yang gila? (Q.S as-Shoffaat ayat 36).
Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam tidak mampu menggubah sendiri suatu syair dengan kesadaran beliau. Jika ada suatu lontaran kalimat yang menyerupai sebuah syair, maka itu adalah ungkapan spontan bukan atas kesadaran dan maksud menyusunnya menjadi sebuah untaian syair. Demikian yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya. Salah satu ungkapan spontan beliau yang menyerupai syair, adalah :
أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ ... أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ
Aku adalah Nabi, tidak ada kedustaan….Aku adalah putra Abdul Muththolib (H.R al-Bukhari dan Muslim dari al-Bara’).
Nabi shollallahu alaihi wasallam tidaklah pernah menggubah untaian syair sendiri dengan kesadarannya, namun beliau bisa saja mempermisalkan keadaan dengan ucapan syair yang dibuat orang lain. Seperti ungkapan syair yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Rowahah (sebenarnya itu adalah gubahan Thorfah bin al-‘Abd), beliau pernah mengutipnya.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَ قِيلَ لَهَا هَلْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَمَثَّلُ بِشَيْءٍ مِنَ الشِّعْرِ قَالَتْ كَانَ يَتَمَثَّلُ بِشِعْرِ ابْنِ رَوَاحَةَ وَيَتَمَثَّلُ وَيَقُولُ وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تُزَوِّدِ
Dari ‘Aisyah -radhiyallahu anha- beliau berkata: Ditanyakan kepada beliau: Apakah Nabi shollallahu alaihi wasallam mempermisalkan sesuatu dengan syair? Aisyah –semoga Allah meridhainya- menjawab: Ya. Beliau pernah membuat permisalan dengan syair Ibnu Rowaahah. Beliau menyatakan:
وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تُزَوِّدِ
“dan akan datang membawa kabar kepadamu seseorang yang tidak engkau beri bekal” (H.R atTirmidzi, anNasaai, Ahmad, dan al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan al-Albany).
Secara asal, isi syair ada yang baik, ada juga yang buruk.
الشِّعْرُ بِمَنْزِلَةِ الْكَلاَمِ : حَسَنُهُ كَحَسَنِ الْكَلاَمِ ، وَقَبِيحُهُ كَقَبِيحِ الْكَلاَمَ
Syair itu kedudukannya seperti ucapan. Syair yang baik seperti ucapan yang baik. Dan yang buruk seperti ucapan yang buruk (H.R al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan al-Albaniy karena adanya beberapa jalur penguat).
TAFSIR AL-QUR'AN:
✋ Namun, jangan sampai seseorang memenuhi dadanya dengan syair, meski itu syair baik. Jangan sampai mayoritas isi kesibukannya adalah dengan syair, sehingga memalingkannya dari dzikir kepada Allah, ilmu, dan al-Qur’an.
TAFSIR AL-QUR'AN:
✋ Namun, jangan sampai seseorang memenuhi dadanya dengan syair, meski itu syair baik. Jangan sampai mayoritas isi kesibukannya adalah dengan syair, sehingga memalingkannya dari dzikir kepada Allah, ilmu, dan al-Qur’an.
لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا
Seandainya seseorang memenuhkan isi rongganya dengan nanah, itu lebih baik baginya dibandingkan memenuhinya dengan syair (H.R al-Bukhari dari Ibnu Umar).
Hadits tersebut dikemukakan al-Imam al-Bukhari dalam Bab berjudul: Maa yukrohu an yakuunal ghoolib ‘alal Insaan asy-Syi’r hatta yashuddahu ‘an dzikrillah wal ‘ilm wal Qur’aan yang artinya: Dibencinya seseorang yang mayoritas waktunya adalah dengan syair hingga menghalanginya dari dzikir kepada Allah, ilmu, dan al-Qur’an.
Ucapan maa yanbaghii secara asal dalam bahasa Arab sering diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai ‘tidak seyogyanya’ atau ‘tidak semestinya’. Namun, dalam penyebutan al-Quran, hal itu artinya tidak mungkin. Sebagaimana dalam firman Allah:
وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا
Dan tidak mungkin arRahman mengambil (mempunyai) anak (Q.S Maryam ayat 92) (faidah penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin).
Tidaklah al-Quran itu kecuali adalah peringatan, yaitu pemberi nasehat, dan bacaan yang jelas, yang berisi kewajiban-kewajiban, batasan-batasan, dan hukum-hukum (Tafsir al-Baghowy).
Syaikh Ibn Utsaimin menjelaskan makna al-Qur’an sebagai dzikir dalam beberapa makna:
▶️ Pertama, sebagai nasehat (sebagaimana yang dijelaskan oleh kebanyakan Ahlut Tafsir).
⏩ Kedua, al-Quran adalah sebaik-baik dzikir yang digunakan untuk mengingat Allah.
➡️ Ketiga, al-Quran adalah kemulyaan bagi orang yang menegakkan dan mengamalkannya. Sebagaimana disebutkan dalam ayat:
وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ
Dan sesungguhnya dia (al-Quran) adalah kemulyaan bagimu dan kaummu, dan kalian akan ditanya nanti (Q.S az-Zukhruf ayat 44).
Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa al-Quran adalah sebaik-baik dzikir:
أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ أَرْبَعٌ وَهِيَ مِنَ الْقُرْآنِ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Ucapan yang paling utama setelah al-Quran ada 4, dan itu adalah bagian dari al-Quran. Tidak memudharatkanmu dari mana saja engkau memulai: Subhaanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallaahu Allaahu Akbar (H.R Ahmad, dinyatakan oleh al-Haytsamiy bahwa rijaalnya adalah rijaal as-Shahih).
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
(Disarikan dari penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsirnya).
=======
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
(Disarikan dari penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsirnya).
=======
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين
Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; ✍ http://telegram.me/alistiqomah
Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; ✍ http://telegram.me/alistiqomah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar