Tafsir al qur an surat yaasin ayat 71

SETAFSIR AL-QUR'AN:
 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-71
 أوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ
 Arti Kalimat: Tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan untuk mereka (makhluk) yang diperbuat oleh Tangan Kami yaitu binatang ternak yang mereka miliki (kuasai).
☝️ Dalam ayat ini Allah mengingatkan salah satu dari sekian banyak nikmatNya kepada manusia. Dia ciptakan binatang ternak yang bisa dimiliki (dikuasai) oleh manusia.
 Kalimat : mimmaa ‘amilat aydiina (yang diperbuat Tangan Kami) menunjukkan penetapan Tangan bagi Allah, sebagaimana akidah Ahlussunnah. Kita menetapkan bahwa Allah memiliki Tangan, sebagaimana dalil-dalil lain yang sangat banyak dari al-Quran dan hadits Nabi yang shahih. Kita tetapkan sifat tersebut sesuai dengan kemulyaan dan kesempurnaan Allah, tidak sama dengan makhluk apapun, dan tidak kita ketahui kaifiyatNya. Kita tidak menolak penisbatan Sifat tersebut, tidak pula mencari-cari makna lain yang tidak Allah turunkan hujjah kepada kita dalam hal itu.
 Jika dalam ayat-ayat al-Quran maupun dalam hadits-hadits yang shahih dinyatakan bahwa Allah memiliki Tangan, kita beriman bahwa Allah memiliki Tangan secara hakiki sesuai dengan kesempurnaan dan kemulyaanNya. Tangan tersebut tidak sama dengan tangan makhluk manapun. Kita juga tidak boleh memikirkan atau menanyakan seperti apa atau bagaimana Tangan Allah itu. Tidak boleh kita cari-cari makna lain untuk menolak penetapan Tangan tersebut, kemudian menganggap bahwa maksud dari ‘Tangan’ dalam ayat atau hadits itu adalah ‘kekuatan’ bukan tangan yang sebenarnya.
 Mari kita simak akidah dari Ulama’ Ahlul Hadits, sebagai contoh al-Imam atTirmidzi (salah seorang murid al-Imam al-Bukhari). Beliau meriwayatkan hadits berikut dalam kitab Sunan atTirmidzi no 598:
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ الصَّدَقَةَ وَيَأْخُذُهَا بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا لِأَحَدِكُمْ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ مُهْرَهُ حَتَّى إِنَّ اللُّقْمَةَ لَتَصِيرُ مِثْلَ أُحُدٍ وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ { أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ } وَ { يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ }
 Sesungguhnya Allah menerima shodaqoh dengan Tangan Kanannya kemudian Allah tumbuhkan untuk salah seorang dari kalian sebagaimana kalian memelihara kuda kecil (hingga menjadi besar). Sampai-sampai (shodaqoh) sesuap (makanan) akan terus membesar hingga sebesar gunung Uhud. Bukti pembenaran hal itu dalam al-Quran adalah :
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ
 Tidakkah kalian tahu bahwasanya Allah menerima taubat dari hambaNya dan mengambil shodaqoh-shodaqoh (Q.S atTaubah:104).
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ
 Allah membinasakan riba dan menumbuhkan shodaqoh-shodaqoh (Q.S al-Baqoroh: 276).
(H.R atTirmidzi no 598).
 Selanjutnya, al-Imam atTirmidzi menyatakan:
TAFSIR AL-QUR'AN:
وَقَدْ قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَمَا يُشْبِهُ هَذَا مِنْ الرِّوَايَاتِ مِنْ الصِّفَاتِ وَنُزُولِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالُوا قَدْ تَثْبُتُ الرِّوَايَاتُ فِي هَذَا وَيُؤْمَنُ بِهَا وَلَا يُتَوَهَّمُ وَلَا يُقَالُ كَيْفَ هَكَذَا رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ وَسُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُمْ قَالُوا فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ أَمِرُّوهَا بِلَا كَيْفٍ وَهَكَذَا قَوْلُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَأَمَّا الْجَهْمِيَّةُ فَأَنْكَرَتْ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ وَقَالُوا هَذَا تَشْبِيهٌ وَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي غَيْرِ مَوْضِعٍ مِنْ كِتَابهِ الْيَدَ وَالسَّمْعَ وَالْبَصَرَ فَتَأَوَّلَتْ الْجَهْمِيَّةُ هَذِهِ الْآيَاتِ فَفَسَّرُوهَا عَلَى غَيْرِ مَا فَسَّرَ أَهْلُ الْعِلْمِ وَقَالُوا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَخْلُقْ آدَمَ بِيَدِهِ وَقَالُوا إِنَّ مَعْنَى الْيَدِ هَاهُنَا الْقُوَّةُ و قَالَ إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ يَدٌ كَيَدٍ أَوْ مِثْلُ يَدٍ أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَإِذَا قَالَ سَمْعٌ كَسَ
مْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَهَذَا التَّشْبِيهُ وَأَمَّا إِذَا قَالَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَدٌ وَسَمْعٌ وَبَصَرٌ وَلَا يَقُولُ كَيْفَ وَلَا يَقُولُ مِثْلُ سَمْعٍ وَلَا كَسَمْعٍ فَهَذَا لَا يَكُونُ تَشْبِيهًا وَهُوَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابهِ { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }
 Lebih dari 1 Ulama menyikapi hadits ini maupun hadits lain yang semisal dengan ini berupa periwayatan tentang Sifat-Sifat dan Turunnya Allah Ta’ala pada tiap malam ke langit dunia, mereka berkata: Riwayat-riwayat tentang ini adalah sah, wajib diimani, tidak boleh dipersangkakan atau dikatakan : ‘Bagaimana?’. Demikianlah yang diriwayatkan dari Malik, Sufyan bin Uyainah, Abdullah bin alMubarok, bahwasanya mereka menyatakan tentang hadits-hadits semacam ini: Tetapkanlah tanpa bertanya ‘bagaimana’. Demikian juga ucapan para Ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Adapun al-Jahmiyyah, mereka mengingkari riwayat-riwayat ini dan berkata: Ini adalah tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk). Padahal Allah telah menyebutkan tidak hanya di satu tempat dalam KitabNya (tentang) Tangan, Pendengaran, Penglihatan. Al-Jahmiyyah menakwilkan ayat-ayat ini kemudian menafsirkan dengan penafsiran yang berbeda dengan penafsiran para Ulama. Mereka (al-Jahmiyyah) berkata: Sesungguhnya Allah tidaklah menciptakan Adam dengan TanganNya. Mereka (al-Jahmiyyah) berkata: Sesungguhnya makna ‘tangan’ di sini adalah ‘kekuatan’. Ishaq bin Ibrahim (salah seorang guru al-Bukhari) menyatakan: Tasybih adalah jika seseorang berkata Tangan (Allah) seperti tangan (makhluk), Pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk). Jika seseorang menyatakan: Pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk), maka ini adalah tasybih (penyerupaan). Namun jika seseorang berkata sebagaimana perkataan Allah: Tangan, Pendengaran, Penglihatan, dan dia tidak menyatakan ‘bagaimana’, tidak juga menyamakan Pendengaran (Alla) seperti pendengaran (makhluk), maka ini bukanlah tasybih. Itu adalah seperti yang disabdakan Allah Ta’ala dalam KitabNya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
 Tidak ada sesuatupun yang semisal denganNya, sedangkan Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Q.S asy-Syuuro:11). (Sunan atTirmidzi no riwayat 598 (3/71)).
 Bukanlah artinya Allah menciptakan binatang ternak itu dengan Tangan Allah langsung, karena kalau demikian niscaya Allah akan menyatakan : kholaqnaa lahum bi aydiinaa.
 Hanya 4 makhluk yang Allah ciptakan langsung dengan TanganNya, sebagaimana ucapan Sahabat Nabi Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu:
خَلَقَ اللهُ أَرْبَعَةَ أَشْيَاءَ بِيَدِهِ : الْعَرْشَ وَالْقَلَمَ وَآدَمَ وَجَنَّةَ عَدْنٍ ثُمَّ قَالَ لِسَائِرِ الْخَلْقِ : كُنْ فَكَانَ
 Allah menciptakan 4 hal dengan TanganNya: Arsy, pena, Adam, dan Jannah ‘Adn kemudian Allah berfirman untuk semua penciptaan lain: Kun (jadilah) maka jadilah (riwayat ad-Daarimiy dan dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Mukhtashar al-Uluw).TAFSIR AL-QUR'AN:
 Namun pengibaratan tersebut adalah penisbatan suatu perbuatan kepada pelakunya, dan telah Allah jelaskan bahwa Dia yang menciptakan, dengan firmanNya: kholaqnaa.
 Dalam bahasa Arab, pengibaratan istilah untuk menyatakan : “dikerjakan oleh pelaku” adalah dengan “dilakukan oleh tangan pelaku”. Sebagaimana dalam ayat berikut ini:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
 dan segala sesuatu (musibah) yang menimpa kalian adalah disebabkan perbuatan tangan-tangan kalian… (Q.S asy-Syuura ayat 30).
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
 Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia, agar Allah menjadikan mereka merasakan (akibat) sebagian perbuatan mereka (manusia) agar mereka kembali (ke jalan yang benar)(Q.S arRuum ayat 41).
 Pada kedua ayat tersebut, penyebutan perbuatan pelaku disebut dengan: perbuatan tangan-nya. Meskipun bisa saja kerusakan atau perbuatan yang dilakukan tidaklah dilakukan tangan langsung.
======
 (Disarikan dari penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsirnya).
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah;

Tafsir alqur an surat yaasin ayat 70

TAFSIR AL-QUR'AN:
 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-70
 ليُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ
 Arti Kalimat: Agar dia memberi peringatan bagi orang yang hidup dan tetaplah ucapan (adzab) bagi kaum kafir.
☝️ Allah turunkan al-Quran ini kepada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam agar beliau memberikan peringatan kepada setiap yang hidup di muka bumi.
 (disarikan dari Tafsir Ibn Katsir).
 Al-Quran ini diturunkan untuk memberi peringatan kepada yang hidup. Namun, kebanyakan saudara kita banyak membacakan surat Yaasin yang di dalamnya terdapat ayat ini dikhususkan untuk orang yang sudah meninggal, bukan orang yang masih hidup.
 Terdapat beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan membacakan surat Yaasin pada orang yang sudah meninggal, namun berkisar pada hadits-hadits yang lemah atau palsu menurut penelitian yang benar dari Ulama Ahlul Hadits.
 Di antaranya adalah hadits-hadits lemah/ palsu itu adalah :
مَا مِنْ مَيِّتٍ يَمُوْتُ ، فَيُقْرَأُ عِنْدَهُ سُوْرَةُ (يَسٍ) ؛ إِلَّا هَوَّنَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ
 Tidaklah ada suatu mayit yang dibacakan di sisinya surat Yaasin kecuali Allah Azza Wa Jalla akan meringankan (siksa) terhadapnya (H.R ad-Dailamiy).
 Di dalam sanad hadits tersebut terdapat perawi yang bernama Marwan bin Salim. Al-Imam Ahmad dan anNasaai menyatakan bahwa ia tidaklah terpercaya. Sedangkan as-Saajiy dan Abu ‘Aruubah menyatakan bahwa ia suka memalsukan hadits.
⚫️ Contoh hadits lain yang lemah/ palsu tentang keutamaan membaca surat Yaasin terhadap orang yang sudah meninggal:
مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ فَقَرَأَ سُوْرَةَ يس خُفِّفَ عَنْهُمْ يَوْمَئِذٍ ، وَكَانَ لَهُ بِعَدَدِ مَنْ فِيْهَا حَسَنَات
 Barangsiapa yang masuk ke kuburan kemudian membaca surat Yaasin, maka akan diringankan (siksa) untuk mereka pada hari tersebut, dan bagi dia (pembaca) akan mendapatkan kebaikan sebanyak jumlah (penghuni) di sana (diriwayatkan oleh ats-Tsa’labiy dalam Tafsirnya).
 Hadits ini dinyatakan oleh as-Sakhowy –murid al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaaniy- sebagai hadits yang tidak shahih (al-Ajwibah al-Mardhiyyah fiimaa su-ila as-Sakhoowiy ‘anhu minal ahaadits anNabawiyyah(1/170)).
 Demikian juga dengan hadits:
مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ يَوْمِ جُمْعَةٍ فَقَرَأَ عِنْدَهُ يس غَفَرَ اللهُ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ حَرْفٍ مِنْهَا
 Barangsiapa yang berziarah ke kubur kedua orangtuanya atau salah satu darinya pada setiap hari Jumat kemudian membaca surat Yaasin di sisinya, Allah akan mengampuninya sebanyak huruf darinya (H.R Ibnun Najjar dalam Tarikhnya). Al-Munawy menyatakan bahwa sanad hadits ini lemah.
 Ibnu ‘Adi juga menyatakan bahwa hadits dengan sanad ini batil (al-Kaamil fi dhu’afaair Rijaal (5/152)).
 Ada satu hadits terkait membacakan Yaasin terhadap orang yang akan meninggal dunia, yang diperselisihkan oleh para Ulama. Hadits tersebut adalah:
اقْرَءُوا (يس) عَلَى مَوْتَاكُمْ
 Bacakanlah Yaasin kepada orang yang akan meninggal (di antara) kalian (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah).
 Hadits ini dilemahkan oleh sebagian Ulama, di antaranya al-Imam anNawawiy dalam al-Adzkar menyebutkan kelemahan sanad hadits itu karena adanya 2 perawi yang majhul (tidak dikenal). AdDaraquthny juga menyatakan bahwa hadits ini sanadnya mudhtharib (guncang), matannya majhul, dan tidak sah.
✅ Sebagian Ulama’ menyatakan hadits itu sah, di antaranya Ibnu Hibban meriwayatkannya dalam Shahihnya. Sudah dimaklumi dari kebiasaan Ibnu Hibban yang menganggap tsiqoh perawi yang majhul. Ada sebuah penisbatan kepada Ibnu Hajar al-‘Asqolaaniy bahwa beliau melihat adanya jalur penguat terhadap hadits ini yaitu ketika seorang Sahabat bernama Ghudhaif bin al-Harits akan meninggal dunia, ia bertanya: “Adakah yang bisa membacakan Yaasin”? Kemudian Sholih bin Syuraih as-Sakuuniy membacakan surat Yaasin untuknya. Ketika terbacakan 40-an ayat, Ghudhaif meninggal dunia (disebutkan oleh Ibnul ‘Allan dalam syarh al-Adzkaar).
♻️ Kalaupun hadits ini dianggap sah, maka yang dimaksud dengan mautaakum dalam hadits itu adalah orang yang akan meninggal,TAFSIR AL-QUR'AN:
bukan orang yang sudah meninggal, sebagaimana penjelasan Ibnu Hibban yang meriwayatkan hadits ini.
 
 Ayat ini juga memberikan faidah bahwa al-Quran adalah peringatan yang bermanfaat bagi orang yang hidup hatinya, mau mendengar, memahami, dan mengamalkannya.
 Sedangkan bagi orang-orang kafir yang mati hatinya, yang telah Allah tetapkan ketiadaan taufiq bagi mereka, maka al-Quran adalah hujjah yang akan semakin menenggelamkan mereka dalam kebinasaan
 (Disarikan dari penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsirnya).
=======
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; ✍ http://telegram.me/alistiqomah

Tafsir surat yaasin ayat 69

TAFSIR AL-QUR'AN:
 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-69
 ومَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآَنٌ مُبِينٌ
 Arti Kalimat: dan tidaklah Kami mengajarkan kepadanya (Nabi Muhammad) syair, dan hal itu tidak mungkin baginya. Tidaklah itu melainkan peringatan dan bacaan yang jelas.
☝️ Dalam ayat ini Allah mensucikan Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam dari celaan dan tuduhan orang-orang Musyrikin Quraisy bahwa beliau adalah penyair, bahwa al-Quran adalah untaian syair (Tafsir as-Sa’di).
 Pembelaan Allah dan bantahan bahwa Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah penyair, seperti disebutkan dalam ayat yang lain:
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ
 Dan bukanlah dia (al-Quran) sebagai ucapan penyair. Sedikit orang yang beriman (Q.S al-Haaqqah ayat 41).
 Keindahan dan mukjizat al-Quran yang luar biasa membuat orang-orang Kafir Quraisy kebingungan dalam menolaknya. Tidak ada satu kalimat yang tegas dalam mendefinisikan apa al-Quran itu di sisi mereka. Kadang kala mereka menyebutnya sebagai sihir, kadangkala sebagai mimpi kosong, kadangkala sebagai ‘suatu yang diada-adakan’, kadangkala sebagai syair.
بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ
 Bahkan mereka berkata: Itu adalah mimpi kosong, (sebagian berkata) bahkan itu adalah sesuatu yang diada-adakan, (sebagian lagi berkata): bahkan dia (Muhammad) adalah penyair… (Q.S al-Anbiyaa’ ayat 5). 
 Ejekan dan celaan orang-orang Kafir tersebut bahwa Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah penyair, juga disebutkan dalam ayat yang lain:
أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ
 Ataukah mereka berkata: (dia) adalah penyair. Kita menunggu datangnya kematiannya (Q.S atThuur ayat 30).
وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ
 dan mereka berkata: Apakah kita akan meninggalkan sesembahan-sesembahan kita karena penyair yang gila? (Q.S as-Shoffaat ayat 36).
 Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam tidak mampu menggubah sendiri suatu syair dengan kesadaran beliau. Jika ada suatu lontaran kalimat yang menyerupai sebuah syair, maka itu adalah ungkapan spontan bukan atas kesadaran dan maksud menyusunnya menjadi sebuah untaian syair. Demikian yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya. Salah satu ungkapan spontan beliau yang menyerupai syair, adalah :
أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ ... أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ
 Aku adalah Nabi, tidak ada kedustaan….Aku adalah putra Abdul Muththolib (H.R al-Bukhari dan Muslim dari al-Bara’).
 Nabi shollallahu alaihi wasallam tidaklah pernah menggubah untaian syair sendiri dengan kesadarannya, namun beliau bisa saja mempermisalkan keadaan dengan ucapan syair yang dibuat orang lain. Seperti ungkapan syair yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Rowahah (sebenarnya itu adalah gubahan Thorfah bin al-‘Abd), beliau pernah mengutipnya.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَ قِيلَ لَهَا هَلْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَمَثَّلُ بِشَيْءٍ مِنَ الشِّعْرِ قَالَتْ كَانَ يَتَمَثَّلُ بِشِعْرِ ابْنِ رَوَاحَةَ وَيَتَمَثَّلُ وَيَقُولُ وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تُزَوِّدِ
 Dari ‘Aisyah -radhiyallahu anha- beliau berkata: Ditanyakan kepada beliau: Apakah Nabi shollallahu alaihi wasallam mempermisalkan sesuatu dengan syair? Aisyah –semoga Allah meridhainya- menjawab: Ya. Beliau pernah membuat permisalan dengan syair Ibnu Rowaahah. Beliau menyatakan:
وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تُزَوِّدِ
 “dan akan datang membawa kabar kepadamu seseorang yang tidak engkau beri bekal” (H.R atTirmidzi, anNasaai, Ahmad, dan al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan al-Albany).
 Secara asal, isi syair ada yang baik, ada juga yang buruk.
الشِّعْرُ بِمَنْزِلَةِ الْكَلاَمِ : حَسَنُهُ كَحَسَنِ الْكَلاَمِ ، وَقَبِيحُهُ كَقَبِيحِ الْكَلاَمَ
 Syair itu kedudukannya seperti ucapan. Syair yang baik seperti ucapan yang baik. Dan yang buruk seperti ucapan yang buruk (H.R al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan al-Albaniy karena adanya beberapa jalur penguat).
TAFSIR AL-QUR'AN:
✋ Namun, jangan sampai seseorang memenuhi dadanya dengan syair, meski itu syair baik. Jangan sampai mayoritas isi kesibukannya adalah dengan syair, sehingga memalingkannya dari dzikir kepada Allah, ilmu, dan al-Qur’an.
لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا
 Seandainya seseorang memenuhkan isi rongganya dengan nanah, itu lebih baik baginya dibandingkan memenuhinya dengan syair (H.R al-Bukhari dari Ibnu Umar).
 Hadits tersebut dikemukakan al-Imam al-Bukhari dalam Bab berjudul: Maa yukrohu an yakuunal ghoolib ‘alal Insaan asy-Syi’r hatta yashuddahu ‘an dzikrillah wal ‘ilm wal Qur’aan yang artinya: Dibencinya seseorang yang mayoritas waktunya adalah dengan syair hingga menghalanginya dari dzikir kepada Allah, ilmu, dan al-Qur’an.
 Ucapan maa yanbaghii secara asal dalam bahasa Arab sering diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai ‘tidak seyogyanya’ atau ‘tidak semestinya’. Namun, dalam penyebutan al-Quran, hal itu artinya tidak mungkin. Sebagaimana dalam firman Allah:
وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا
 Dan tidak mungkin arRahman mengambil (mempunyai) anak (Q.S Maryam ayat 92) (faidah penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin).
 Tidaklah al-Quran itu kecuali adalah peringatan, yaitu pemberi nasehat, dan bacaan yang jelas, yang berisi kewajiban-kewajiban, batasan-batasan, dan hukum-hukum (Tafsir al-Baghowy).
 Syaikh Ibn Utsaimin menjelaskan makna al-Qur’an sebagai dzikir dalam beberapa makna:
▶️ Pertama, sebagai nasehat (sebagaimana yang dijelaskan oleh kebanyakan Ahlut Tafsir).
⏩ Kedua, al-Quran adalah sebaik-baik dzikir yang digunakan untuk mengingat Allah.
➡️ Ketiga, al-Quran adalah kemulyaan bagi orang yang menegakkan dan mengamalkannya. Sebagaimana disebutkan dalam ayat:
وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ
 Dan sesungguhnya dia (al-Quran) adalah kemulyaan bagimu dan kaummu, dan kalian akan ditanya nanti (Q.S az-Zukhruf ayat 44).
 Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa al-Quran adalah sebaik-baik dzikir:
أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ أَرْبَعٌ وَهِيَ مِنَ الْقُرْآنِ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
 Ucapan yang paling utama setelah al-Quran ada 4, dan itu adalah bagian dari al-Quran. Tidak memudharatkanmu dari mana saja engkau memulai: Subhaanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallaahu Allaahu Akbar (H.R Ahmad, dinyatakan oleh al-Haytsamiy bahwa rijaalnya adalah rijaal as-Shahih).
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 (Disarikan dari penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsirnya).
=======
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; ✍ http://telegram.me/alistiqomah

Tafsir surat yaasin ayat 68

TAFSIR AL-QUR'AN:
 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-68
 ومَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ
 Arti Kalimat: dan barangsiapa yang Kami beri umur panjang, Kami kurangi (kesempurnaan) bentuk penciptaannya, tidakkah mereka berpikir?
☝️ Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa semakin panjang umur manusia di dunia, ia akan berangsur-angsur mengalami penurunan kekuatan baik dalam fisik, pikiran, atau hafalannya. Maka hendaknya seseorang segera mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya dalam beribadah kepada Allah saat tubuhnya masih kuat, pikirannya masih prima, sebelum datangnya kondisi lemah tersebut.
 Allah menjelaskan dalam ayat yang lain :
وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا
 Dan di antara kalian ada yang dikembalikan ke usia yang paling rendah, agar mereka menjadi tidak tahu sama sekali setelah sebelumnya mengetahui (Q.S al-Hajj ayat 5).
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
 Allahlah yang menciptakan kalian dari lemah, kemudian setelah kelemahan Allah jadikan kuat, kemudian setelah kekuatan itu (muncul) kelemahan dan uban. Dialah Yang Menciptakan sesuai kehendakNya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha berkuasa (Q.S arRuum ayat 54).
 Kata nunakkishu berasal dari kata nakkasa yang maknanya adalah membalikkan keadaan. Sebelumnya kuat menjadi lemah.
 Ada beberapa qiro’ah terkait kata nunakkishu, yaitu:
▶️ Pertama: nankushu (nun pertama difathah nun kedua sukun kaf dommah), qiro’ah Jumhur menurut asy-Syaukaniy dalam Fathul Qodiir. Demikian juga yang dijelaskan al-Baghowy dan al-Qurthuby dalam tafsirnya. Ini adalah qiro’ah penduduk Madinah, Bashrah, dan sebagian Kufah menurut atThobary.
⏩ Kedua: nunakkishu (nun pertama dhommah nun kedua fathah kaf tasdid kasroh). Ini adalah qiroah Hamzah dan ‘Ashim, merupakan qiro’ah kebanyakan penduduk Kufah menurut atThobary.
➡️ Sedangkan ucapan afalaa ya’qiluun, sebagian qiro’ah membaca: Afalaa ta’qiluun. Itu adalah qiro’ah Nafi’ dan Ibnu Dzakwaan dari Ibnu ‘Aamir.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 (Disarikan dari penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsirnya).
=======
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; ✍ http://telegram.me/alistiqomah

Tafsir surat yaasin ayat 67

TAFSIR AL-QUR'AN:
 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-6⃣7⃣
 ولَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيًّا وَلَا يَرْجِعُونَ
 Arti Kalimat: Kalau seandainya Kami mau, Kami (bisa) mengubah wujud mereka di tempat mereka hingga mereka (terdiam) tidak bisa maju ataupun mundur.
✏️ Kata lamasakhnaahum artinya: Kami mengubah wujud mereka. Makna kata masakho adalah merubah suatu bentuk/wujud ke bentuk lain. Para Ulama tafsir menjelaskan bahwa Allah Maha Mampu untuk merubah bentuk mereka menjadi monyet, babi, atau batu yang terdiam tak bergerak.
 Kemahakuasaan Allah ini sebagaimana ditunjukkan sebagai hukuman bagi kaum Bani Israil yang menentang perintah Allah, diubah bentuknya menjadi kera dan babi.
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنْقِمُونَ مِنَّا إِلَّا أَنْ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ (59) قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ (60)
 "Wahai Ahlul Kitab apakah kalian mencela kami karena kami beriman kepada Allah dan kepada (kitab) yang diturunkan kepada kami dan kepada (kitab) yang diturunkan sebelumnya sedang kebanyakan di antara kalian benar-benar orang-orang yang fasik? (59) Katakanlah "Apakah akan aku beritakan kepada kalian tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari orang-orang fasik itu di sisi Allah yaitu orang-orang yang dilaknat dan dimurkai Allah di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan orang yang menyembah thaghut. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus (60) (Q.S al-Maaidah ayat 59-60).
 Sangat mudah bagi Allah untuk melakukan masakh, mengubah bentuk manusia menjadi berwujud yang lain. Seperti mengubah kepala seorang makmum yang menyengaja untuk mendahului gerakan Imam sholat menjadi kepala keledai:
أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ
 Tidakkah orang yang mengangkat kepalanya sebelum Imam takut Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai?! (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim).
 Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang kafir telah tetap bagi mereka adzab. Api anNaar pada waktu itu (hari kiamat) telah dinyalakan. Tidak ada yang bisa selamat kecuali dengan melewati as-Shirath. Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang beriman yang berjalan dengan penerangan cahaya. Sedangkan orang-orang tersebut, mereka tidak akan diselamatkan dari anNaar. Jika Allah kehendaki, bisa saja mereka dihapuskan matanya namun masih bisa bergerak. Mereka akan berlomba-lomba mencari jalan, namun tidak bisa melihatnya. Jika Allah kehendaki, mereka tidak bisa bergerak. Tidak bisa maju ataupun mundur ke belakang. Akibatnya mereka tidak bisa menyeberangi as-Shirath, sehingga merekapun tidak mendapatkan keselamatan.
 (Disarikan dari penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsirnya).
=======
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; ✍ http://telegram.me/alistiqomah

Tafsir surat yaasin ayat 66

TAFSIR AL-QUR'AN:
 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-6⃣6⃣
 ولَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَى أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّى يُبْصِرُونَ
 Arti Kalimat: dan kalau Kami mau, Kami (bisa) menghapus mata mereka sehingga mereka berlomba-lomba (mencari) jalan; maka bagaimana bisa mereka melihatnya?
 Makna kata ‘lathomasnaa’ itu adalah menghapus mata sehingga tidak berbekas. Hal ini lebih dahsyat pengaruhnya dari sekedar membutakan mata. Kebanyakan orang yang tidak bisa melihat masih memiliki mata, namun mata tersebut tidak berfungsi sesuai yang diharapkan. Sedangkan makna thomasa adalah menghilangkan mata sebagai alat penglihatan hingga tak ada bekasnya sama sekali. Allah Maha Mampu untuk menghapus mata manusia sehingga mereka tidak bisa melihat.
 Maksud dari ayat ini: Allah telah menghapus (penglihatan) mata hati mereka. Kalau Allah mau, bisa saja Dia juga menghapus mata yang digunakan untuk melihat. Jika mata fisik dihapus menyebabkan seseorang tidak bisa melihat arah jalan yang akan dilaluinya, demikian pula orang yang dihapus mata hatinya, ia tidak akan mampu melihat kebenaran (al-haq).
 (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin).
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; ✍ http://telegram.me/alistiqomah

Tafsir al qur an surat yaasin ayat 65

TAFSIR AL-QUR'AN:
 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-6⃣5⃣
 الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
 Arti Kalimat: pada hari itu Kami tutup mulut mereka dan tangan-tangan mereka berbicara kepada Kami, sedangkan kaki-kaki mereka bersaksi terhadap apa yang mereka perbuat.
☝️ Anggota tubuh manusia akan bersaksi terhadap perbuatan yang sudah mereka lakukan. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat lain:
حَتَّى إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (20) وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (21) وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ (22)
 Sehingga ketika mereka sampai di Neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: Mengapa kalian menjadi saksi terhadap kami? Kulit mereka menjawab: Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang menciptakan kalian pada kali pertama dan hanya kepada-Nyalah kalian akan dikembalikan. Kalian sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulit kalian. Bahkan kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan (Q.S Fusshilat ayat 20-22).
 Di dalam sebuah hadits dinyatakan:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضَحِكَ فَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مِمَّ أَضْحَكُ قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ مِنْ مُخَاطَبَةِ الْعَبْدِ رَبَّهُ يَقُولُ يَا رَبِّ أَلَمْ تُجِرْنِي مِنْ الظُّلْمِ قَالَ يَقُولُ بَلَى قَالَ فَيَقُولُ فَإِنِّي لَا أُجِيزُ عَلَى نَفْسِي إِلَّا شَاهِدًا مِنِّي قَالَ فَيَقُولُ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ شَهِيدًا وَبِالْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ شُهُودًا قَالَ فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ فَيُقَالُ لِأَرْكَانِهِ انْطِقِي قَالَ فَتَنْطِقُ بِأَعْمَالِهِ قَالَ ثُمَّ يُخَلَّى بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَلَامِ قَالَ فَيَقُولُ بُعْدًا لَكُنَّ وَسُحْقًا فَعَنْكُنَّ كُنْتُ أُنَاضِلُ
 Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu beliau berkata: Kami pernah di sisi Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kemudian beliau tertawa (tersenyum). Kemudian beliau berkata: Apakah kalian tahu apa yang menyebabkan aku tertawa? Kami mengatakan: Allah dan RasulNya yang paling tahu. Beliau bersabda: (Aku tertawa) karena percakapan seorang hamba dengan RabbNya. Ia berkata: Wahai Rabbku, bukankah Engkau telah melindungi aku dari kedzhaliman. Allah menyatakan: Ya. Ia berkata: Aku tidak menerima persaksian terhadap diriku kecuali berasal dari aku sendiri. Allah berfirman: Pada hari ini cukuplah engkau menjadi saksi atas dirimu sendiri dan Malaikat pencatat amal sebagai saksi. Kemudian ditutup mulut orang tersebut, dan dikatakan kepada anggota tubuhnya: Berbicaralah! Maka anggota tubuhnya berbicara (menjelaskan) perbuatan-perbuatannya. Kemudian ia dibiarkan sendiri, pada saat itu ia berkata: Celaka kalian, padahal aku sudah membela kalian (H.R Muslim).
 Dalam ayat ini Allah menyebut tangan ‘berbicara’ sedangkan kaki ‘bersaksi’ karena kebanyakan perbuatan kemaksiatan dilakukan oleh tangan, sedangkan kaki hadir di tempat itu menyaksikannya. Walaupun kadangkala ada kemaksiatan tertentu yang kaki menjadi pelaku utama, namun kebanyakan kemaksiatan dilakukan oleh tangan (penjelasan al-Imam asy-Syaukaniy dalam Fathul Qodiir).
 Pada hari kiamat, ada beberapa keadaan dari orang-orang musyirikin. Pada awalnya mereka mengingkari kesalahannya, kemudian setelah anggota tubuhnya bersaksi, barulah mereka mengakui kesalahannya. Hal yang menunjukkan bahwa awalnya mereka mengingkari kesalahannya, disebutkan dalam ayat yang lain:
TAFSIR AL-QUR'AN:
وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُ
مُ  الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ (22) ث
مَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ (23) انْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (24)
 Pada hari Kami mengumpulkan mereka semua kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: ke mana sekutu-sekutu (sesembahan) kalian yang dulunya kalian anggap (mampu memberi syafaat)? Kemudian tidaklah jawaban mereka kecuali berkata: Demi Allah Tuhan kami, kami tidaklah berbuat kesyirikan. Perhatikanlah bagaimana bisa mereka berdusta atas diri sendiri dan telah hilang (sesembahan) yang dulunya mereka ada-adakan (Q.S al-An’aam ayat 22-24) (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin).
 Berdasarkan keterangan dalam al-Qur’an, terdapat 6 anggota tubuh yang akan bersaksi yaitu: tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, dan lidah. Pada ayat ini disebutkan tangan dan kaki. Pada surat Fusshilat ayat 20 disebutkan kulit, pendengaran, penglihatan. Sedangkan dalam surat anNuur ayat 24 disebutkan lisan juga bersaksi:
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
 Pada hari saat bersaksi lisan, tangan, dan kaki terhadap apa yang mereka perbuat (Q.S anNuur ayat 24).
 (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin).
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; @alistiqomah

Tafsir al qur an surat yaasin ayat 63 64

TAFSIR AL-QUR'AN:
 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-6⃣3⃣
 هذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
 Arti Kalimat: Ini adalah Jahannam yang dijanjikan kepada kalian.
 Dikatakan kepada mereka ketika mendekat ke anNaar: Inilah Jahannam yang para Rasul telah mengancam kalian dengannya di dunia (Fathul Qodiir lisyaukaani).
✏️ Penggunaan kata ‘ini’ dengan bahasa Arab : haadzihi menunjukkan kedekatan Jahannam pada hari itu. Dan disebutkan dalam hadits bahwa Jahannam didekatkan kepada mereka, ditarik oleh para Malaikat. Ditarik dengan tali kekang sebanyak 70 ribu. Tiap satu tali kekang ditarik oleh 70 ribu Malaikat. Manusia diperlihatkan dengan jelas anNaar, membangkitkan kengerian yang sangat dahsyat. Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang banyak berdosa: Inilah Jahannam yang telah diancamkan kepada kalian.
 (penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin dalam menafsirkan surat Yaasin).
يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا
 Pada hari itu Jahannam didatangkan. Ia memiliki 70 ribu tali kekang. Pada setiap satu tali kekang ada 70 ribu Malaikat yang menariknya (H.R Muslim).
 Dijelaskan dalam ayat yang lain bahwa orang-orang kafir tersebut didorong dengan keras dan kasar hingga terjungkal ke Jahannam.
يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلَى نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا (13) هَذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ (14)
 Pada hari (kiamat) mereka didorong ke Jahannam dengan keras. (Dikatakan kepada mereka): Inilah anNaar yang dulunya kalian dustakan (Q.S atThuur ayat 13).
 Sepertinya ketika anNaar didekatkan dan diperlihatkan kepada mereka, mereka ketakutan hingga mundur. Namun tiba-tiba mereka didorong dengan keras dan kasar hingga berjatuhan ke anNaar. Saat masih didekatkan dan belum masuk, dikatakan kepada mereka: Inilah Jahannam yang kalian dulu diancam dengannya. Saat sudah terjatuh ke Jahannam, dikatakan kepada mereka: Inilah Jahannam yang dulunya kalian dustakan.
 Ayat Ke-6⃣4⃣
 اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
 Arti Kalimat: Masuklah kalian ke dalamnya pada hari itu, disebabkan perbuatan kufur kalian.

 Perintah ‘Masuklah ke dalam api’ menunjukkan penghinaan dan perendahan mereka. Perintah ini bersifat kauni, sehingga tidak mungkin bisa ditolak. Walaupun mereka sangat tidak berharap masuk ke dalamnya, namun dengan perintah Kauniy ini, jadilah mereka masuk ke dalamnya.
⌛️ Di dalam ayat ini terkandung faidah penetapan keadilan bagi Allah. Bahwa orang-orang yang masuk Jahannam bukan karena kedzhaliman yang Allah perbuat terhadap mereka. Tapi mereka yang mendzhalimi dirinya sendiri dengan berbuat kekufuran yang akibatnya menyebabkan mereka masuk ke dalam Jahannam.
 (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin).

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; @alistiqomah

Tafsir surat yaasin ayat 61 dan 62

TAFSIR AL-QUR'AN:
disini:
✅ TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-6⃣1⃣
 وأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
 Arti Kalimat: dan seharusnya kalian menyembah hanya kepadaKu, sesungguhnya ini adalah jalan yang lurus.
☝️ Ayat ke-60 dan ayat ini (ayat ke-61) menunjukkan kesempurnaan tauhid barulah tercapai jika terdapat penafian dan penetapan.
▶️ Menafikan penyembahan kepada Syaithan, yang artinya penyembahan kepada segala sesuatu selain Allah, dan menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah semata.
⏩ Ayat ini juga menunjukkan bahwa jalan yang lurus itu adalah mentauhidkan Allah dalam peribadatan.
 Ayat Ke-6⃣2⃣
 ولَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ
 Arti Kalimat: dan sungguh Syaithan telah menyesatkan makhluk yang banyak di antara kalian. Apakah kalian tidak memikirkannya?
 Kata jibillan (bentuk jamak dari jabiil) dalam ayat tersebut artinya adalah sekumpulan umat (makhluk) yang banyak. Ad-Dhohhak menyatakan: minimal satu kumpulan itu berjumlah 10 ribu. Dan tidak ada batasan maksimalnya (al-Muharror al-Wajiiz libni Athiyyah). Penggunaan kata jibbillah yang bermakna serupa, juga disebutkan dalam ayat lain:
وَاتَّقُوا الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالْجِبِلَّةَ الْأَوَّلِينَ
 dan bertakwalah kalian kepada (Allah) yang telah menciptakan kalian dan (banyak) makhluk terdahulu (Q.S asy-Syu’araa’ ayat 184).
 Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Syaithan telah menyesatkan banyak manusia. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat lain:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعاً يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْأِنْسِ...
 Dan pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka seluruhnya, (Allah berfirman): wahai sekalian jin, sungguh kalian telah banyak (menyesatkan) manusia… (Q.S al-An’aam ayat 128).
 Iblis sebelumnya telah menyangka bahwa ia akan menyesatkan seluruh keturunan Adam kecuali hanya sedikit:
...لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا
…jika seandainya Engkau menunda (masa hidupku) hingga hari kiamat, sungguh aku akan memasang tali kekang untuk keturunannya (agar sesat) kecuali hanya sedikit (Q.S al-Israa’ ayat 62).
 Allah juga menjelaskan bahwa persangkaan Iblis itu benar, bahwa yang mengikutinya banyak. Hanya sedikit saja kaum beriman yang tidak mengikuti Iblis:
وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
 Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian dari orang-orang beriman (Q.S Saba’ ayat 20).
 (disarikan dari Tafsir Adhwaaul Bayaan lisySyinqithiy (6/298))
Di dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa setiap dari 1000 keturunan Adam, akan masuk anNaar 999 orang, hanya 1 yang masuk Jannah.
 Sedangkan separuh penduduk Jannah adalah berasal dari umat Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam.
يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا آدَمُ يَقُولُ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ فَيُنَادَى بِصَوْتٍ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ بَعْثًا إِلَى النَّارِ قَالَ يَا رَبِّ وَمَا بَعْثُ النَّارِ قَالَ مِنْ كُلِّ أَلْفٍ أُرَاهُ قَالَ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ فَحِينَئِذٍ تَضَعُ الْحَامِلُ حَمْلَهَا وَيَشِيبُ الْوَلِيدُ { وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ } فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ حَتَّى تَغَيَّرَتْ وُجُوهُهُمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ وَمِنْكُمْ وَاحِدٌ ثُمَّ أَنْتُمْ فِي النَّاسِ كَالشَّعْرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جَنْبِ الثَّوْرِ الْأَبْيَضِ أَوْ كَالشَّعْرَةِ الْبَيْضَاءِ فِي جَنْبِ الثَّوْرِ الْأَسْوَدِ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَكَبَّرْنَا ثُمَّ قَالَ ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَكَبَّرْنَا ثُمَّ قَالَ شَطْرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَكَبَّرْنَا
 Allah Azza Wa Jalla berfirman pada hari kiamat: Wahai Adam. Adam menjawab: Kami memenuhi seruanmu dengan senang hati wahai Tuhan kami
TAFSIR AL-QUR'AN:
. Kemudian diserukan dengan suara: Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu untuk mengeluarkan dari keturunanmu utusan menuju anNaar. Adam bertanya: Wahai Tuhanku, apakah utusan anNaar itu? Pada setiap 1000 orang, diutus 999 orang. Pada saat itulah wanita hamil mengeluarkan kandungannya dan anak kecil menjadi beruban. (Sebagaimana firman Allah) :
وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ
 Dan engkau melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah sangat kerasnya (Q.S al-Hajj ayat 2)
(mendengar hadits yang disampaikan Nabi itu) para Sahabat merasa berat hingga wajah-wajah mereka berubah. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: pada Ya’juj dan Ma’juj 999, sedangkan pada kalian 1. Kalian di kalangan manusia bagaikan satu rambut hitam di sisi sapi jantan yang putih. Atau satu rambut putih di sisi sapi jantan hitam. Aku sungguh berharap bahwa kalian termasuk seperempat penduduk Jannah. Kemudian kami (para Sahabat) bertakbir. Nabi menyatakan: sepertiga penduduk Jannah. Kemudian kami (para Sahabat) bertakbir. Nabi menyatakan: setengah penduduk Jannah. Kemudian kami (para Sahabat) bertakbir (H.R al-Bukhari dari Abu Said al-Khudry).   
 Ada beberapa qira’ah (cara membaca) kata ‘jibillan’, yaitu:
Pertama, yang masyhur adalah jibillan: jim kasroh, ba’ kasroh, dan lam mengalami tasydid. Ini adalah bacaan Nafi’ dan ‘Ashim, merupakan qiro’ah penduduk Madinah dan sebagian Kufah.
Kedua, dibaca jubulan : jim dan ba’ dhommah, lam tidak ditasydid. Ini adalah bacaan Abu ‘Amr dan Ibnu ‘Aamir, merupakan qiro’ah sebagian penduduk Makkah dan kebanyakan penduduk Kufah.
Ketiga, dibaca jublan : jim didhommah, ba’ disukun, lam tidak ditasydid. Ini adalah qiro’ah Ahlul Bashrah.
Semua bacaan tersebut memiliki makna yang sama, yaitu makhluk yang banyak.
===================
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; @alistiqomah

TAFSIR AL QURAN SURAT YAASIN AYAT 60

TAFSIR AL-QUR'AN:
✅ TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-6⃣0⃣
 ألَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
 Arti Kalimat: Bukankah Aku telah mengambil perjanjian dengan kalian wahai Anak Adam agar kalian tidak menyembah syaithan ?! Sesungguhnya dia adalah musuh nyata bagi kalian.
☝️ Dalam ayat ini Allah mencela orang-orang para pendosa dan yang beribadah kepada selain Allah. Setiap peribadatan kepada selain Allah, sesungguhnya itu adalah peribadatan kepada Syaithan, meski secara dzhahir seseorang menyembah kepada Malaikat atau para Nabi. Sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ (40) قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ (41)
 Dan (ingatlah) pada hari (Allah) mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada Malaikat:”Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-Malaikat itu menjawab:”Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka. Bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu (Q.S Saba’ ayat 40-41).
 (penjelasan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ Fataawa).
 Orang-orang musyrikin yang menyembah berhala dan menganggap itu sebagai anak perempuan Allah, sesungguhnya mereka menyembah Syaithan, sebagaimana Allah berfirman:
إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَرِيدًا
 Tidaklah mereka menyembah selain-Nya kecuali berhala (yang diberi nama perempuan), dan tidaklah mereka menyembah kecuali syaithan yang durhaka. (Q.S anNisaa’ ayat 117).
 (disarikan dari Tafsir Adhwaa-ul Bayaan karya Syaikh Muhammad al-Amiin asy-Syinqithy (3/41)).
 Segala macam bentuk penyelisihan terhadap perintah Allah, sesungguhnya itu adalah ketaatan kepada Syaithan. Segala macam kekafiran dan kemaksiatan adalah bentuk ketaatan dan peribadatan kepada Syaithan (Tafsir as-Sa’di).
 Dalam ayat ini Allah mencela orang-orang yang ‘menyembah’ Syaithan. Para Ulama Ahlut Tafsir banyak yang menjelaskan bahwa makna ‘menyembah’ itu adalah mentaati perintah Syaithan dalam melanggar aturan-aturan Allah.
 Syaikh Ibn Utsaimin menjelaskan bahwa mentaati selain Allah dalam hal-hal yang melanggar syariat Allah adalah salah satu bagian dari ibadah. Sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nashara yang disebut oleh Allah sebagai menjadikan pemuka-pemuka agama mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, karena pengikut Yahudi dan Nashara itu tunduk kepada pemuka-pemuka agamanya dalam hal-hal yang jelas melanggar aturan-aturan Allah.
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
 Mereka (Yahudi dan Nashara) menjadikan para pemuka agama Yahudi dan ahli ibadah Nashara sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan al-Masih putra Maryam. Padahal tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka menyembah sesembahan yang satu (Allah). Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan (Q.S atTaubah ayat 31).
 Seorang Sahabat Nabi Adi bin Hatim saat masih Nashrani beliau menghadap Nabi dengan berkalung salib. Melihat hal itu Nabi memerintahkan kepada beliau untuk melempar salib tersebut. Kemudian Nabi membaca surat atTaubah, di antaranya adalah ayat 31 dari surat atTaubah tersebut. Kemudian Adi bin Hatim menyatakan: Kami dulu tidak menyembah pemuka-pemuka agama tersebut. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam bertanya:
أَلَيْسَ يُحَرِّمُوْنَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُوْنَهُ وَ يُحِلُّوْنَ مَا حَرَّمَ اللهُ فَتَسْتَحِلُّوْنَهُ ؟
TAFSIR AL-QUR'AN:
 Bukankah ketika mereka (para pemuka agama itu) mengharamkan yang Allah halalkan, mereka (Ahlul Kitab) mengharamkannya juga dan ketika mereka (para pemuka agama itu) menghalalkan yang diharamkan Allah mereka (Ahlul Kitab) juga menghalalkannya?
Adi bin Hatim menyatakan : Ya, benar. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam menyatakan:
فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ
 Maka itulah bentuk peribadatan mereka kepada para pemuka agamanya (H.R atTirmidzi, atThobarony, al-Baihaqy, lafadz sesuai atThobarony dihasankan al-Albany).
⚡️ Di dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Syaithan adalah musuh yang nyata. Musuh adalah pihak yang selalu berusaha menimpakan kesusahan, kerugian, dan keburukan bagi pihak yang dimusuhinya.
 Pada ayat yang lain Allah menegaskan perintah agar manusia benar-benar menjadikan syaithan sebagai musuh.
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
 Sesungguhnya syaithan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya ia mengajak bala tentaranya untuk menjadi penghuni Neraka (Q.S Faathir ayat 6).
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; @alistiqomah

TAFSIR AL-QUR'AN SURAT YAASIN AYAT 61-62

TAFSIR AL-QUR'AN,
disini:
✅📖 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

📖 Ayat Ke-6⃣1⃣

👈 وأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

🍃 Arti Kalimat: dan seharusnya kalian menyembah hanya kepadaKu, sesungguhnya ini adalah jalan yang lurus.

☝️ Ayat ke-60 dan ayat ini (ayat ke-61) menunjukkan kesempurnaan tauhid barulah tercapai jika terdapat penafian dan penetapan.

▶️ Menafikan penyembahan kepada Syaithan, yang artinya penyembahan kepada segala sesuatu selain Allah, dan menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah semata.

⏩ Ayat ini juga menunjukkan bahwa jalan yang lurus itu adalah mentauhidkan Allah dalam peribadatan.


📖 Ayat Ke-6⃣2⃣

👈 ولَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ

🍃 Arti Kalimat: dan sungguh Syaithan telah menyesatkan makhluk yang banyak di antara kalian. Apakah kalian tidak memikirkannya?

🍂 Kata jibillan (bentuk jamak dari jabiil) dalam ayat tersebut artinya adalah sekumpulan umat (makhluk) yang banyak. Ad-Dhohhak menyatakan: minimal satu kumpulan itu berjumlah 10 ribu. Dan tidak ada batasan maksimalnya (al-Muharror al-Wajiiz libni Athiyyah). Penggunaan kata jibbillah yang bermakna serupa, juga disebutkan dalam ayat lain:

وَاتَّقُوا الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالْجِبِلَّةَ الْأَوَّلِينَ

🍃 dan bertakwalah kalian kepada (Allah) yang telah menciptakan kalian dan (banyak) makhluk terdahulu (Q.S asy-Syu’araa’ ayat 184).

🌏 Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Syaithan telah menyesatkan banyak manusia. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat lain:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعاً يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْأِنْسِ...

🍃 Dan pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka seluruhnya, (Allah berfirman): wahai sekalian jin, sungguh kalian telah banyak (menyesatkan) manusia… (Q.S al-An’aam ayat 128).

🔥 Iblis sebelumnya telah menyangka bahwa ia akan menyesatkan seluruh keturunan Adam kecuali hanya sedikit:

...لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا

🍃…jika seandainya Engkau menunda (masa hidupku) hingga hari kiamat, sungguh aku akan memasang tali kekang untuk keturunannya (agar sesat) kecuali hanya sedikit (Q.S al-Israa’ ayat 62).

🌷 Allah juga menjelaskan bahwa persangkaan Iblis itu benar, bahwa yang mengikutinya banyak. Hanya sedikit saja kaum beriman yang tidak mengikuti Iblis:

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

🍃 Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian dari orang-orang beriman (Q.S Saba’ ayat 20).

💍 (disarikan dari Tafsir Adhwaaul Bayaan lisySyinqithiy (6/298))
Di dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa setiap dari 1000 keturunan Adam, akan masuk anNaar 999 orang, hanya 1 yang masuk Jannah.

🔵 Sedangkan separuh penduduk Jannah adalah berasal dari umat Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam.

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا آدَمُ يَقُولُ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ فَيُنَادَى بِصَوْتٍ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ بَعْثًا إِلَى النَّارِ قَالَ يَا رَبِّ وَمَا بَعْثُ النَّارِ قَالَ مِنْ كُلِّ أَلْفٍ أُرَاهُ قَالَ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ فَحِينَئِذٍ تَضَعُ الْحَامِلُ حَمْلَهَا وَيَشِيبُ الْوَلِيدُ { وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ } فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ حَتَّى تَغَيَّرَتْ وُجُوهُهُمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ وَمِنْكُمْ وَاحِدٌ ثُمَّ أَنْتُمْ فِي النَّاسِ كَالشَّعْرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جَنْبِ الثَّوْرِ الْأَبْيَضِ أَوْ كَالشَّعْرَةِ الْبَيْضَاءِ فِي جَنْبِ الثَّوْرِ الْأَسْوَدِ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَكَبَّرْنَا ثُمَّ قَالَ ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَكَبَّرْنَا ثُمَّ قَالَ شَطْرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَكَبَّرْنَا

🍃 Allah Azza Wa Jalla berfirman pada hari kiamat: Wahai Adam. Adam menjawab: Kami memenuhi seruanmu dengan senang hati wahai Tuhan kamiTAFSIR AL-QUR'AN, [23.10.16 10:37]
. Kemudian diserukan dengan suara: Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu untuk mengeluarkan dari keturunanmu utusan menuju anNaar. Adam bertanya: Wahai Tuhanku, apakah utusan anNaar itu? Pada setiap 1000 orang, diutus 999 orang. Pada saat itulah wanita hamil mengeluarkan kandungannya dan anak kecil menjadi beruban. (Sebagaimana firman Allah) :

وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

🍃 Dan engkau melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah sangat kerasnya (Q.S al-Hajj ayat 2)

(mendengar hadits yang disampaikan Nabi itu) para Sahabat merasa berat hingga wajah-wajah mereka berubah. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: pada Ya’juj dan Ma’juj 999, sedangkan pada kalian 1. Kalian di kalangan manusia bagaikan satu rambut hitam di sisi sapi jantan yang putih. Atau satu rambut putih di sisi sapi jantan hitam. Aku sungguh berharap bahwa kalian termasuk seperempat penduduk Jannah. Kemudian kami (para Sahabat) bertakbir. Nabi menyatakan: sepertiga penduduk Jannah. Kemudian kami (para Sahabat) bertakbir. Nabi menyatakan: setengah penduduk Jannah. Kemudian kami (para Sahabat) bertakbir (H.R al-Bukhari dari Abu Said al-Khudry).  

🎯 Ada beberapa qira’ah (cara membaca) kata ‘jibillan’, yaitu:
Pertama, yang masyhur adalah jibillan: jim kasroh, ba’ kasroh, dan lam mengalami tasydid. Ini adalah bacaan Nafi’ dan ‘Ashim, merupakan qiro’ah penduduk Madinah dan sebagian Kufah.
Kedua, dibaca jubulan : jim dan ba’ dhommah, lam tidak ditasydid. Ini adalah bacaan Abu ‘Amr dan Ibnu ‘Aamir, merupakan qiro’ah sebagian penduduk Makkah dan kebanyakan penduduk Kufah.
Ketiga, dibaca jublan : jim didhommah, ba’ disukun, lam tidak ditasydid. Ini adalah qiro’ah Ahlul Bashrah.
Semua bacaan tersebut memiliki makna yang sama, yaitu makhluk yang banyak.
===================
📋Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

🍀🍀🍀🍀
🌎Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; @alistiqomah

TAFSIR AL-QUR'AN SURAT YAASIN AYAT 60

TAFSIR AL-QUR'AN, [23.10.16 10:34]
✅📖 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

📖 Ayat Ke-6⃣0⃣


👈 ألَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ


🍃 Arti Kalimat: Bukankah Aku telah mengambil perjanjian dengan kalian wahai Anak Adam agar kalian tidak menyembah syaithan ?! Sesungguhnya dia adalah musuh nyata bagi kalian.

☝️ Dalam ayat ini Allah mencela orang-orang para pendosa dan yang beribadah kepada selain Allah. Setiap peribadatan kepada selain Allah, sesungguhnya itu adalah peribadatan kepada Syaithan, meski secara dzhahir seseorang menyembah kepada Malaikat atau para Nabi. Sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ (40) قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ (41)

🍃 Dan (ingatlah) pada hari (Allah) mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada Malaikat:”Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-Malaikat itu menjawab:”Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka. Bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu (Q.S Saba’ ayat 40-41).

💍 (penjelasan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ Fataawa).

💥 Orang-orang musyrikin yang menyembah berhala dan menganggap itu sebagai anak perempuan Allah, sesungguhnya mereka menyembah Syaithan, sebagaimana Allah berfirman:

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَرِيدًا

🍃 Tidaklah mereka menyembah selain-Nya kecuali berhala (yang diberi nama perempuan), dan tidaklah mereka menyembah kecuali syaithan yang durhaka. (Q.S anNisaa’ ayat 117).

💍 (disarikan dari Tafsir Adhwaa-ul Bayaan karya Syaikh Muhammad al-Amiin asy-Syinqithy (3/41)).

🔴 Segala macam bentuk penyelisihan terhadap perintah Allah, sesungguhnya itu adalah ketaatan kepada Syaithan. Segala macam kekafiran dan kemaksiatan adalah bentuk ketaatan dan peribadatan kepada Syaithan (Tafsir as-Sa’di).

📌 Dalam ayat ini Allah mencela orang-orang yang ‘menyembah’ Syaithan. Para Ulama Ahlut Tafsir banyak yang menjelaskan bahwa makna ‘menyembah’ itu adalah mentaati perintah Syaithan dalam melanggar aturan-aturan Allah.

📝 Syaikh Ibn Utsaimin menjelaskan bahwa mentaati selain Allah dalam hal-hal yang melanggar syariat Allah adalah salah satu bagian dari ibadah. Sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nashara yang disebut oleh Allah sebagai menjadikan pemuka-pemuka agama mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, karena pengikut Yahudi dan Nashara itu tunduk kepada pemuka-pemuka agamanya dalam hal-hal yang jelas melanggar aturan-aturan Allah.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

🍃 Mereka (Yahudi dan Nashara) menjadikan para pemuka agama Yahudi dan ahli ibadah Nashara sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan al-Masih putra Maryam. Padahal tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka menyembah sesembahan yang satu (Allah). Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan (Q.S atTaubah ayat 31).

🌷 Seorang Sahabat Nabi Adi bin Hatim saat masih Nashrani beliau menghadap Nabi dengan berkalung salib. Melihat hal itu Nabi memerintahkan kepada beliau untuk melempar salib tersebut. Kemudian Nabi membaca surat atTaubah, di antaranya adalah ayat 31 dari surat atTaubah tersebut. Kemudian Adi bin Hatim menyatakan: Kami dulu tidak menyembah pemuka-pemuka agama tersebut. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam bertanya:

أَلَيْسَ يُحَرِّمُوْنَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُوْنَهُ وَ يُحِلُّوْنَ مَا حَرَّمَ اللهُ فَتَسْتَحِلُّوْنَهُ ؟
TAFSIR AL-QUR'AN, [23.10.16 10:34]
🍃 Bukankah ketika mereka (para pemuka agama itu) mengharamkan yang Allah halalkan, mereka (Ahlul Kitab) mengharamkannya juga dan ketika mereka (para pemuka agama itu) menghalalkan yang diharamkan Allah mereka (Ahlul Kitab) juga menghalalkannya?
Adi bin Hatim menyatakan : Ya, benar. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam menyatakan:

فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ

🍃 Maka itulah bentuk peribadatan mereka kepada para pemuka agamanya (H.R atTirmidzi, atThobarony, al-Baihaqy, lafadz sesuai atThobarony dihasankan al-Albany).

⚡️ Di dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Syaithan adalah musuh yang nyata. Musuh adalah pihak yang selalu berusaha menimpakan kesusahan, kerugian, dan keburukan bagi pihak yang dimusuhinya.

🌏 Pada ayat yang lain Allah menegaskan perintah agar manusia benar-benar menjadikan syaithan sebagai musuh.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

🍃 Sesungguhnya syaithan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya ia mengajak bala tentaranya untuk menjadi penghuni Neraka (Q.S Faathir ayat 6).
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

📋Allahu A’lam

الحمد لله ربّ العالمين

🍀🍀🍀🍀
🌎Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; @alistiqomah

Tafsir alquran surat yaasin ayat 59

TAFSIR AL-QUR'AN:
📖 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

📖 Ayat Ke-5⃣9⃣

👈 وامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ

🍃 Arti Kalimat: dan menyingkirlah hari ini (dari barisan orang bertakwa) wahai orang-orang yang banyak berbuat dosa.

🔎 Pada hari kiamat, barisan orang-orang beriman dan bertakwa dipisahkan dari barisan orang-orang kafir dan orang-orang yang banyak berbuat dosa.

يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَنِ وَفْدًا (85) وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا (86)

🍃 Pada hari Kami kumpulkan orang-orang bertakwa menuju arRahman sebagai utusan (yang dimulyakan), dan Kami giring para pendosa menuju Jahannam dalam keadaan kehausan dan berjalan kaki (Q.S Maryam ayat 86).

💥 Di dalam ayat ini terkandung faidah bahwa para pendosa mendapatkan penghinaan dengan ucapan ini. Mereka diusir dari barisan kaum beriman dan bertakwa. Sehingga nampak jelas kehinaan mereka pada waktu itu. Salah satu bentuk penghinaan itu adalah lafadz dalam memanggil mereka tidak perlu menggunakan kata “yaa” (Wahai).

💍 (disarikan dari Tafsir Yasin libni Utsaimin halaman 211-212).

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📋Allahu A’lam

الحمد لله ربّ العالمين

🍀🍀🍀🍀
🌎Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; @alistiqomah

Tafsir al qur an surat yaasin ayat 57

TAFSIR AL-QUR'AN:
 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-5⃣7⃣
 لهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ
 Arti Kalimat: Bagi mereka ‘fakihah’ (buah-buahan), dan mereka mendapatkan apa yang diminta.
✏️ Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa semua jenis makanan penduduk Jannah adalah ‘fakihah’, dari kata ‘yatafakkah’ yaitu bersenang-senang. Sering kali kata fakihah diterjemahkan sebagai “buah-buahan”, dan itu yang banyak disebutkan para Ulama. Namun, Syaikh Ibn Utsaimin cenderung pada pendapat bahwa semua jenis makanan penduduk Jannah adalah fakihah karena semua makanan itu dimakan untuk bersenang-senang, bukan karena kebutuhan atau kondisi darurat harus memakannya.
 Berbeda dengan di dunia, yang kadangkala kita harus makan sesuatu karena kita butuh dengan makanan itu. Kita saat sakit harus makan obat, jamu, dan semisalnya yang terpaksa kita makan meski pahit, tapi karena kebutuhan, harus kita makan. Itupun belum tentu menyebabkan kita sembuh. Dalam kondisi darurat, di tempat pedalaman yang tidak bisa didapatkan makanan halal, seseorang bisa saja terpaksa makan bangkai.
 Dalam ayat ini juga dijelaskan bahwa penduduk Jannah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebagaimana dijelaskan di dalam ayat lain:
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
 Dan di dalamnya (Jannah) terdapat segala yang diinginkan jiwa dan yang menyenangkan mata, dan kalian kekal di dalamnya (Q.S az-Zukhruf ayat 71).
 Ayat Ke-5⃣8⃣
 سلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ
 Arti Kalimat: (Semoga keselamatan atas kalian) sebagai suatu ucapan dari Rabb yang Maha Penyayang.
☝️ Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menyatakan ucapan: Salaam kepada penduduk Jannah. Hal itu menunjukkan bahwa penduduk Jannah akan mendapat keselamatan yang sempurna: tidak akan pernah mengalami sakit, hal yang tidak mengenakkan, ataupun kematian.
يُنَادِي مُنَادٍ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلَا تَبْأَسُوا أَبَدًا
 Akan ada penyeru yang berseru (kepada penduduk Jannah): Sesungguhnya kalian akan sehat terus tidak akan sakit selamanya, sesungguhnya kalian akan hidup terus tidak akan meninggal selamanya, sesungguhnya kalian akan tetap muda tidak akan pernah tua selamanya, sesungguhnya kalian akan merasakan kenikmatan dan tidak akan sengsara selamanya (H.R Muslim dari Abu Said dan Abu Hurairah).
✅ Ayat ini juga menunjukkan dalil bahwa Allah memiliki Sifat berbicara. Ahlussunnah menetapkan bahwa Allah berbicara secara hakiki dan didengar oleh makhluk yang dikehendakiNya.
 Penyebutan Sifat arRahiim (Yang Maha memiliki rahmat), dalam ayat ini menunjukkan bahwa penduduk Jannah tidaklah bisa mencapai kedudukan di Jannah seperti itu kecuali atas rahmat Allah.
 (disarikan dari Tafsir Yasin libni Utsaimin halaman 210).
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; @alistiqomah

Tafsir al quran surat yaasin ayat 55, 56

TAFSIR AL-QUR'AN:
✅ TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-5⃣5⃣
 إنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ
 Arti Kalimat: Sesungguhnya penduduk Jannah (Surga) pada hari tersebut berada dalam kesibukan yang menyenangkan.
 Ash-haab sering diterjemahkan sebagai ‘penduduk’ atau ‘penghuni’. Secara akar kata, Ash-haab adalah bentuk jamak yang berasal dari kata Shoohib yang maknanya mulazamah (berdiam atau menemani dalam waktu yang panjang). Seluruh kata Shoohib maknanya adalah mulazamah untuk waktu tertentu, kecuali shoohib Nabi atau para Sahabat Nabi.
 Para Ulama menjelaskan bahwa seseorang yang dikatakan sebagai Sahabat Nabi, tidak harus ber-mulazamah, mendampingi Nabi dalam waktu yang lama. Cukup dia pernah bertemu dengan Nabi dan beriman kepada Nabi dan meninggal dalam keadaan iman, maka ia telah menyandang predikat sebagai Sahabat Nabi.
 Jannah (Surga) adalah tempat tinggal di akhirat yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa yang penuh dengan kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan bahkan terbetik dalam benak (hati/ pikiran).
 Ada 2 qiro’ah yang sesuai dengan qiroa’ah sab’ah pada ayat ini, yaitu: syughulin atau syughlin (huruf ghain disukun). 
 Penduduk Jannah sibuk dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Tidak membuat capek sedikitpun, karena kesibukan mereka adalah kesibukan yang nikmat. Berbagai kesibukan yang menyenangkan membuat mereka merasa dalam keadaan paling bahagia, sehingga tidak ada sedikitpun keinginan untuk berpindah tempat dari Surga, meski ia berada di tingkatan yang paling bawah.
خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا
 (Penduduk Jannah) kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah tempat (Q.S al-Kahfi ayat 108).
 (disarikan dari Tafsir Yaasin libni Utsaimin halaman 196-200).
 Ayat Ke-5⃣6⃣
 همْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ
 Arti Kalimat: Mereka bersama istri-istri mereka berada di bawah naungan, bertelekan (bersandar dengan santai) di atas dipan-dipan.
 Penduduk Jannah (Surga) dijelaskan dalam ayat ini menikmati kesenangan dan kenikmatan di dalamnya bersama istri-istri mereka. Baik wanita dunia yang masuk Jannah atau bidadari-bidadari yang tidak pernah hidup di dunia.
 Mereka berada di bawah “naungan”, artinya teduh terasa bagi mereka. Sinar yang ada tidak membikin panas. Kalau di dunia, terik matahari terasa panas, di dalam ruangan terasa gerah. Namun di Jannah, mereka mendapat sinar, tapi tak terasa gerah atau kepanasan. Sinar yang ada menerangi, namun menenangkan.
 Sebagian Ulama menjelaskan kondisi sinar yang didapatkan di Jannah itu bagaikan sinar yang ada di masa antara terbit fajar hingga terbit matahari. Teduh, menenangkan.
 “Mereka bertelekan di atas dipan-dipan”, itu menunjukkan kesempurnaan istirahat, ketentraman, tiadanya kepenatan dan rasa capek pada mereka (penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam menafsirkan surat al-Kahfi ayat 31).
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah;

TAFSIR AL QUR;AN SURAT YAASIN AYAT 59

TAFSIR AL-QUR'AN,
📖 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

📖 Ayat Ke-5⃣9⃣

👈 وامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ

🍃 Arti Kalimat: dan menyingkirlah hari ini (dari barisan orang bertakwa) wahai orang-orang yang banyak berbuat dosa.

🔎 Pada hari kiamat, barisan orang-orang beriman dan bertakwa dipisahkan dari barisan orang-orang kafir dan orang-orang yang banyak berbuat dosa.

يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَنِ وَفْدًا (85) وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا (86)

🍃 Pada hari Kami kumpulkan orang-orang bertakwa menuju arRahman sebagai utusan (yang dimulyakan), dan Kami giring para pendosa menuju Jahannam dalam keadaan kehausan dan berjalan kaki (Q.S Maryam ayat 86).

💥 Di dalam ayat ini terkandung faidah bahwa para pendosa mendapatkan penghinaan dengan ucapan ini. Mereka diusir dari barisan kaum beriman dan bertakwa. Sehingga nampak jelas kehinaan mereka pada waktu itu. Salah satu bentuk penghinaan itu adalah lafadz dalam memanggil mereka tidak perlu menggunakan kata “yaa” (Wahai).

💍 (disarikan dari Tafsir Yasin libni Utsaimin halaman 211-212).

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📋Allahu A’lam

الحمد لله ربّ العالمين

🍀🍀🍀🍀
🌎Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah; @alistiqomah

TAFSIR AL-QUR'AN,SURAT YAASIN ayat 57-58

TAFSIR AL-QUR'AN,
📖 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

📖 Ayat Ke-57

👈 لهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ

🍃 Arti Kalimat: Bagi mereka ‘fakihah’ (buah-buahan), dan mereka mendapatkan apa yang diminta.

✏️ Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa semua jenis makanan penduduk Jannah adalah ‘fakihah’, dari kata ‘yatafakkah’ yaitu bersenang-senang. Sering kali kata fakihah diterjemahkan sebagai “buah-buahan”, dan itu yang banyak disebutkan para Ulama. Namun, Syaikh Ibn Utsaimin cenderung pada pendapat bahwa semua jenis makanan penduduk Jannah adalah fakihah karena semua makanan itu dimakan untuk bersenang-senang, bukan karena kebutuhan atau kondisi darurat harus memakannya.

🌏 Berbeda dengan di dunia, yang kadangkala kita harus makan sesuatu karena kita butuh dengan makanan itu. Kita saat sakit harus makan obat, jamu, dan semisalnya yang terpaksa kita makan meski pahit, tapi karena kebutuhan, harus kita makan. Itupun belum tentu menyebabkan kita sembuh. Dalam kondisi darurat, di tempat pedalaman yang tidak bisa didapatkan makanan halal, seseorang bisa saja terpaksa makan bangkai.

🔵 Dalam ayat ini juga dijelaskan bahwa penduduk Jannah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebagaimana dijelaskan di dalam ayat lain:

وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

🍃 Dan di dalamnya (Jannah) terdapat segala yang diinginkan jiwa dan yang menyenangkan mata, dan kalian kekal di dalamnya (Q.S az-Zukhruf ayat 71).


📖 Ayat Ke-58

👈 سلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

🍃 Arti Kalimat: (Semoga keselamatan atas kalian) sebagai suatu ucapan dari Rabb yang Maha Penyayang.

☝️ Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menyatakan ucapan: Salaam kepada penduduk Jannah. Hal itu menunjukkan bahwa penduduk Jannah akan mendapat keselamatan yang sempurna: tidak akan pernah mengalami sakit, hal yang tidak mengenakkan, ataupun kematian.

يُنَادِي مُنَادٍ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلَا تَبْأَسُوا أَبَدًا

🍃 Akan ada penyeru yang berseru (kepada penduduk Jannah): Sesungguhnya kalian akan sehat terus tidak akan sakit selamanya, sesungguhnya kalian akan hidup terus tidak akan meninggal selamanya, sesungguhnya kalian akan tetap muda tidak akan pernah tua selamanya, sesungguhnya kalian akan merasakan kenikmatan dan tidak akan sengsara selamanya (H.R Muslim dari Abu Said dan Abu Hurairah).

✅ Ayat ini juga menunjukkan dalil bahwa Allah memiliki Sifat berbicara. Ahlussunnah menetapkan bahwa Allah berbicara secara hakiki dan didengar oleh makhluk yang dikehendakiNya.

🌷 Penyebutan Sifat arRahiim (Yang Maha memiliki rahmat), dalam ayat ini menunjukkan bahwa penduduk Jannah tidaklah bisa mencapai kedudukan di Jannah seperti itu kecuali atas rahmat Allah.

💍 (disarikan dari Tafsir Yasin libni Utsaimin halaman 210).
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📋Allahu A’lam

الحمد لله ربّ العالمين

🍀🍀🍀🍀
🌎Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah;

Tafsir al quran surat yaasin ayat 55, 56

TAFSIR AL-QUR'AN:
✅ TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-5⃣5⃣
 إنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ
 Arti Kalimat: Sesungguhnya penduduk Jannah (Surga) pada hari tersebut berada dalam kesibukan yang menyenangkan.
 Ash-haab sering diterjemahkan sebagai ‘penduduk’ atau ‘penghuni’. Secara akar kata, Ash-haab adalah bentuk jamak yang berasal dari kata Shoohib yang maknanya mulazamah (berdiam atau menemani dalam waktu yang panjang). Seluruh kata Shoohib maknanya adalah mulazamah untuk waktu tertentu, kecuali shoohib Nabi atau para Sahabat Nabi.
 Para Ulama menjelaskan bahwa seseorang yang dikatakan sebagai Sahabat Nabi, tidak harus ber-mulazamah, mendampingi Nabi dalam waktu yang lama. Cukup dia pernah bertemu dengan Nabi dan beriman kepada Nabi dan meninggal dalam keadaan iman, maka ia telah menyandang predikat sebagai Sahabat Nabi.
 Jannah (Surga) adalah tempat tinggal di akhirat yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa yang penuh dengan kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan bahkan terbetik dalam benak (hati/ pikiran).
 Ada 2 qiro’ah yang sesuai dengan qiroa’ah sab’ah pada ayat ini, yaitu: syughulin atau syughlin (huruf ghain disukun). 
 Penduduk Jannah sibuk dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Tidak membuat capek sedikitpun, karena kesibukan mereka adalah kesibukan yang nikmat. Berbagai kesibukan yang menyenangkan membuat mereka merasa dalam keadaan paling bahagia, sehingga tidak ada sedikitpun keinginan untuk berpindah tempat dari Surga, meski ia berada di tingkatan yang paling bawah.
خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا
 (Penduduk Jannah) kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah tempat (Q.S al-Kahfi ayat 108).
 (disarikan dari Tafsir Yaasin libni Utsaimin halaman 196-200).
 Ayat Ke-5⃣6⃣
 همْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ
 Arti Kalimat: Mereka bersama istri-istri mereka berada di bawah naungan, bertelekan (bersandar dengan santai) di atas dipan-dipan.
 Penduduk Jannah (Surga) dijelaskan dalam ayat ini menikmati kesenangan dan kenikmatan di dalamnya bersama istri-istri mereka. Baik wanita dunia yang masuk Jannah atau bidadari-bidadari yang tidak pernah hidup di dunia.
 Mereka berada di bawah “naungan”, artinya teduh terasa bagi mereka. Sinar yang ada tidak membikin panas. Kalau di dunia, terik matahari terasa panas, di dalam ruangan terasa gerah. Namun di Jannah, mereka mendapat sinar, tapi tak terasa gerah atau kepanasan. Sinar yang ada menerangi, namun menenangkan.
 Sebagian Ulama menjelaskan kondisi sinar yang didapatkan di Jannah itu bagaikan sinar yang ada di masa antara terbit fajar hingga terbit matahari. Teduh, menenangkan.
 “Mereka bertelekan di atas dipan-dipan”, itu menunjukkan kesempurnaan istirahat, ketentraman, tiadanya kepenatan dan rasa capek pada mereka (penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam menafsirkan surat al-Kahfi ayat 31).
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah;

Tafsir al quran surat yaasin ayat 55, 56

TAFSIR AL-QUR'AN:
✅ TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Ayat Ke-5⃣5⃣
 إنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ
 Arti Kalimat: Sesungguhnya penduduk Jannah (Surga) pada hari tersebut berada dalam kesibukan yang menyenangkan.
 Ash-haab sering diterjemahkan sebagai ‘penduduk’ atau ‘penghuni’. Secara akar kata, Ash-haab adalah bentuk jamak yang berasal dari kata Shoohib yang maknanya mulazamah (berdiam atau menemani dalam waktu yang panjang). Seluruh kata Shoohib maknanya adalah mulazamah untuk waktu tertentu, kecuali shoohib Nabi atau para Sahabat Nabi.
 Para Ulama menjelaskan bahwa seseorang yang dikatakan sebagai Sahabat Nabi, tidak harus ber-mulazamah, mendampingi Nabi dalam waktu yang lama. Cukup dia pernah bertemu dengan Nabi dan beriman kepada Nabi dan meninggal dalam keadaan iman, maka ia telah menyandang predikat sebagai Sahabat Nabi.
 Jannah (Surga) adalah tempat tinggal di akhirat yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa yang penuh dengan kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan bahkan terbetik dalam benak (hati/ pikiran).
 Ada 2 qiro’ah yang sesuai dengan qiroa’ah sab’ah pada ayat ini, yaitu: syughulin atau syughlin (huruf ghain disukun). 
 Penduduk Jannah sibuk dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Tidak membuat capek sedikitpun, karena kesibukan mereka adalah kesibukan yang nikmat. Berbagai kesibukan yang menyenangkan membuat mereka merasa dalam keadaan paling bahagia, sehingga tidak ada sedikitpun keinginan untuk berpindah tempat dari Surga, meski ia berada di tingkatan yang paling bawah.
خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا
 (Penduduk Jannah) kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah tempat (Q.S al-Kahfi ayat 108).
 (disarikan dari Tafsir Yaasin libni Utsaimin halaman 196-200).
 Ayat Ke-5⃣6⃣
 همْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ
 Arti Kalimat: Mereka bersama istri-istri mereka berada di bawah naungan, bertelekan (bersandar dengan santai) di atas dipan-dipan.
 Penduduk Jannah (Surga) dijelaskan dalam ayat ini menikmati kesenangan dan kenikmatan di dalamnya bersama istri-istri mereka. Baik wanita dunia yang masuk Jannah atau bidadari-bidadari yang tidak pernah hidup di dunia.
 Mereka berada di bawah “naungan”, artinya teduh terasa bagi mereka. Sinar yang ada tidak membikin panas. Kalau di dunia, terik matahari terasa panas, di dalam ruangan terasa gerah. Namun di Jannah, mereka mendapat sinar, tapi tak terasa gerah atau kepanasan. Sinar yang ada menerangi, namun menenangkan.
 Sebagian Ulama menjelaskan kondisi sinar yang didapatkan di Jannah itu bagaikan sinar yang ada di masa antara terbit fajar hingga terbit matahari. Teduh, menenangkan.
 “Mereka bertelekan di atas dipan-dipan”, itu menunjukkan kesempurnaan istirahat, ketentraman, tiadanya kepenatan dan rasa capek pada mereka (penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam menafsirkan surat al-Kahfi ayat 31).
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah;

Index Labels