TAFSIR AL-QUR'AN:
✅ TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
✅ TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Ayat Ke-5⃣5⃣
إنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ
Arti Kalimat: Sesungguhnya penduduk Jannah (Surga) pada hari tersebut berada dalam kesibukan yang menyenangkan.
Ash-haab sering diterjemahkan sebagai ‘penduduk’ atau ‘penghuni’. Secara akar kata, Ash-haab adalah bentuk jamak yang berasal dari kata Shoohib yang maknanya mulazamah (berdiam atau menemani dalam waktu yang panjang). Seluruh kata Shoohib maknanya adalah mulazamah untuk waktu tertentu, kecuali shoohib Nabi atau para Sahabat Nabi.
Para Ulama menjelaskan bahwa seseorang yang dikatakan sebagai Sahabat Nabi, tidak harus ber-mulazamah, mendampingi Nabi dalam waktu yang lama. Cukup dia pernah bertemu dengan Nabi dan beriman kepada Nabi dan meninggal dalam keadaan iman, maka ia telah menyandang predikat sebagai Sahabat Nabi.
Jannah (Surga) adalah tempat tinggal di akhirat yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa yang penuh dengan kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan bahkan terbetik dalam benak (hati/ pikiran).
Ada 2 qiro’ah yang sesuai dengan qiroa’ah sab’ah pada ayat ini, yaitu: syughulin atau syughlin (huruf ghain disukun).
Penduduk Jannah sibuk dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Tidak membuat capek sedikitpun, karena kesibukan mereka adalah kesibukan yang nikmat. Berbagai kesibukan yang menyenangkan membuat mereka merasa dalam keadaan paling bahagia, sehingga tidak ada sedikitpun keinginan untuk berpindah tempat dari Surga, meski ia berada di tingkatan yang paling bawah.
خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا
(Penduduk Jannah) kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah tempat (Q.S al-Kahfi ayat 108).
(disarikan dari Tafsir Yaasin libni Utsaimin halaman 196-200).
Ayat Ke-5⃣6⃣
همْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ
Arti Kalimat: Mereka bersama istri-istri mereka berada di bawah naungan, bertelekan (bersandar dengan santai) di atas dipan-dipan.
Penduduk Jannah (Surga) dijelaskan dalam ayat ini menikmati kesenangan dan kenikmatan di dalamnya bersama istri-istri mereka. Baik wanita dunia yang masuk Jannah atau bidadari-bidadari yang tidak pernah hidup di dunia.
Mereka berada di bawah “naungan”, artinya teduh terasa bagi mereka. Sinar yang ada tidak membikin panas. Kalau di dunia, terik matahari terasa panas, di dalam ruangan terasa gerah. Namun di Jannah, mereka mendapat sinar, tapi tak terasa gerah atau kepanasan. Sinar yang ada menerangi, namun menenangkan.
Sebagian Ulama menjelaskan kondisi sinar yang didapatkan di Jannah itu bagaikan sinar yang ada di masa antara terbit fajar hingga terbit matahari. Teduh, menenangkan.
“Mereka bertelekan di atas dipan-dipan”, itu menunjukkan kesempurnaan istirahat, ketentraman, tiadanya kepenatan dan rasa capek pada mereka (penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam menafsirkan surat al-Kahfi ayat 31).
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Allahu A’lam
Allahu A’lam
الحمد لله ربّ العالمين
Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah;
Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah;
Tidak ada komentar:
Posting Komentar