✅๐ TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
๐ Ayat Ke-47
๐ ูุฅِุฐَุง َِููู َُููู
ْ ุฃَُِْููููุง ู
ِู
َّุง ุฑَุฒََُููู
ُ ุงَُّููู َูุงَู ุงَّูุฐَِูู ََููุฑُูุง َِّููุฐَِูู ุขَู
َُููุง ุฃَُูุทْุนِู
ُ ู
َْู َْูู َูุดَุงุกُ ุงَُّููู ุฃَุทْุนَู
َُู ุฅِْู ุฃَْูุชُู
ْ ุฅَِّูุง ِูู ุถََูุงٍู ู
ُุจٍِูู
๐ Arti Kalimat: Jika dikatakan kepada mereka: berinfaklah dari (harta) yang Allah rezekikan kepada kalian, orang-orang kafir itu berkata kepada orang-orang beriman: Apakah kami akan memberi makan orang yang jika Allah kehendaki, Allah akan memberi makan kepadanya? Tidaklah kalian kecuali berada dalam kesesatan yang nyata.
☝️ Jika orang beriman mengajak kepada orang-orang kafir yang berharta agar berinfak memberikan sebagian harta pemberian Allah, orang kafir itu akan membantah dengan mengatakan: Untuk apa kami beri makan mereka. Toh kalau Allah kehendaki, Dia Yang akan memberi makan kepada mereka?!
๐ฅ Orang kafir tersebut mengucapkan kalimat yang mengandung kebenaran, namun tujuannya adalah batil. Sekedar lari dari kewajiban untuk berbuat baik kepada hamba Allah.
๐น Allah menyebut dalam ayat ini: “berinfaklah dari (harta) kalian yang Allah rezekikan kepada kalian”, tidak menyatakan: “berinfaklah dari harta kalian”, untuk mengingatkan manusia bahwa harta mereka adalah pemberian Allah. Maka berinfaklah sesuai perintah Allah yang telah memberi rezeki kepada kalian. Sesungguhnya Yang memerintahkan kepada kalian untuk berinfak adalah Yang memberikan rezeki kepada kalian.
๐ฐ Hal ini juga memberikan faidah kepada kita bahwa sesungguhnya seseorang yang berinfak, ia tidaklah memberikan manfaat bagi Allah, karena harta yang diinfakkannya adalah harta pemberian Allah.
๐จ Ada 3 kemungkinan alasan orang kafir dalam menolak untuk memberikan infaq seperti yang tersebut dalam ayat tersebut:
▶️ Pertama, ejekan atau cemoohan.
⏩ Kedua, beralasan dengan takdir.
Seperti ucapan orang-orang musyrikin yang beralasan dengan takdir, yang juga dibantah oleh Allah dalam ayat yang sama:
ุณََُُูููู ุงَّูุฐَِูู ุฃَุดْุฑَُููุง َْูู ุดَุงุกَ ุงَُّููู ู
َุง ุฃَุดْุฑََْููุง ََููุง ุขَุจَุงุคَُูุง ََููุง ุญَุฑَّู
َْูุง ู
ِْู ุดَْูุกٍ َูุฐََِูู َูุฐَّุจَ ุงَّูุฐَِูู ู
ِْู َูุจِِْููู
ْ ุญَุชَّู ุฐَุงُููุง ุจَุฃْุณََูุง ُْูู َْูู ุนِْูุฏَُูู
ْ ู
ِْู ุนِْูู
ٍ َูุชُุฎْุฑِุฌُُูู ََููุง ุฅِْู ุชَุชَّุจِุนَُูู ุฅَِّูุง ุงูุธََّّู َูุฅِْู ุฃَْูุชُู
ْ ุฅَِّูุง ุชَุฎْุฑُุตَُูู
๐ Orang-orang yang berbuat kesyirikan akan berkata: Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukanNya dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu apapun. Demikianlah pula orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: Adakah kalian mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat mengemukakannya kepada Kami? Kalian tidaklah mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kalian tidak lain hanyalah berdusta (Q.S al-An’aam ayat 148).
๐ด Orang yang beralasan dengan takdir setelah mengerjakan kemaksiatan dan tidak mau bertaubat, sesungguhnya ia mengikuti perilaku orang-orang musyrik. Allah cela mereka dalam surat al-An’aam ayat 148 itu bahwa mereka pendusta dan sekedar mengikuti persangkaan (dzhan) saja.
➡️ Ketiga, memprotes takdir.
⚫️ Seakan-akan orang kafir itu menyatakan: kalau mau menyalahkan, salahkan Allah. Dialah yang menakdirkan orang miskin itu tidak dapat makan. Kalau Dia menghendaki, niscaya Dialah Yang akan memberikan makan.
๐ข Di dalam ayat ini juga terkandung faidah bahwa bakhil adalah sifat orang-orang kafir. Tidak sepantasnya kaum beriman memiliki sifat tersebut.
๐ฃ Pelajaran lain yang bisa diambil dari ayat ini pula adalah bahwa orang-orang musyrikin tersebut meyakini akan kehendak Allah yang pasti akan terlaksana. Tidaklah sesuatu terjadi di muka bumi kecuali atas kehendak Allah. Mereka meyakini Rububiyyah Allah. Hanya saja mereka tidak mau tunduk taat kepada perintah-perintah Allah, yaitu beribadah hanya kepadaNya semata.
๐ฏ Sejak jaman dulu hingga sekarang, dan terus akan demikian hingga hari kiamat, orang-orang kafir itu akan selalu mencerca, mencemooh dan memberi gelaran-gelaran yang buruk bagi kaum beriman. Seperti ucapan mereka dalam ayat ini kepada orang beriman: Tidaklah kalian kecuali berada dalam kesesatan yang nyata. Selalu saja mereka menimbulkan gangguan bagi kaum beriman. Namun, gangguan itu tidaklah memudharatkan kaum beriman yang tetap konsisten dalam menjalankan perintah Allah.
َْูู َูุถُุฑُُّููู
ْ ุฅَِّูุง ุฃَุฐًู
๐ Mereka tidak akan bisa memudharatkan kalian, kecuali sekedar gangguan (Q.S Ali Imran ayat 111).
๐Allahu A’lam
ุงูุญู
ุฏ ููู ุฑุจّ ุงูุนุงูู
ูู
๐๐๐๐
๐Sumber : Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"; Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah