TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📖 Ayat Ke-48
👈 ويَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
🍃 Arti Kalimat: Dan mereka berkata: Kapan datangnya janji ini jika kalian jujur (benar)?
💥 Orang-orang Kafir yang mendustakan janji Allah, mempertanyakan: Kapan datangnya hari kiamat, jika memang kalian benar? Hal ini mereka katakan sebagai bentuk penentangan karena para Nabi mengkhabarkan akan datangnya hari kiamat saat manusia dibangkitkan dari kubur mereka dan dibalas sesuai amal perbuatan mereka.
📛 Bahkan, karena ketidakyakinan mereka akan datangnya hari kiamat itu, orang-orang kafir tersebut menantang dan ingin disegerakan datangnya hari kiamat itu.
يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِهَا وَالَّذِينَ آَمَنُوا مُشْفِقُونَ مِنْهَا وَيَعْلَمُونَ أَنَّهَا الْحَقُّ
🍃 Orang-orang yang tidak beriman ingin disegerakan datangnya hari kiamat, sedangkan orang-orang beriman takut akan datangnya hari tersebut dan mengetahui bahwa itu adalah benar (haq) (Q.S asy-Syuura ayat 18) (disarikan dari tafsir Ibnu Katsir).
🔰 Orang-orang beriman takut akan datangnya hari kiamat dan mereka mempersiapkan amal dan bertaubat kepada Allah untuk menyongsong datangnya hari kiamat itu. Hari kiamat tidaklah diketahui kecuali hanya oleh Allah. Yang dibutuhkan oleh kita adalah mempersiapkan datangnya hari kiamat itu dengan taat kepada Allah dan menjauhi hal-hal yang dilarangNya.
✅ Mereka berjuang untuk taat kepada Allah dengan mengerjakan amal sholih. Namun, kalaupun seseorang kurang dalam amalnya, mereka masih bisa berharap kecintaan mereka kepada Allah, kecintaan kepada Nabi, kecintaan kepada para Sahabat Nabi, bisa memberikan manfaat bagi mereka di akhirat.
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
🍃 Dari Anas radhiyallahu anhu bahwa seseorang laki-laki bertanya kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam tentang hari kiamat. Ia bertanya: kapan hari kiamat? Nabi menyatakan: Apa yang engkau persiapkan untuknya? Orang itu menyatakan: tidak ada. Kecuali aku mencintai Allah dan RasulNya shollallahu alaihi wasallam. Maka Nabi bersabda: Engkau bersama orang yang engkau cintai. Anas berkata: Tidak ada kegembiraan yang lebih besar bagi kami selain ucapan Nabi shollallahu alaihi wasallam: “engkau bersama orang yang engkau cintai”. Anas berkata: Maka aku mencintai Nabi shollallahu alaihi wasallam, Abu Bakr, Umar, dan aku berharap bersama mereka karena kecintaanku kepada mereka. Meski aku tidak beramal seperti amalan mereka (H.R al-Bukhari dan Muslim).
🌹 Mencintai Allah dan Rasul-Nya bukanlah dengan mengada-adakan kebid’ahan yang tidak pernah dituntunkan Nabi dalam beribadah kepada Allah, namun bukti kecintaan kepada Allah adalah dengan meneladani Sunnah Rasul shollallahu alaihi wasallam:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
🍃 Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S Ali Imran ayat 31).
🌷 Mengerjakan Sunnah Nabi meskipun tidak banyak, hanya sederhana, itu jauh lebih baik dan tidak bisa dibandingkan daripada banyak dan sering mengerjakan kebid’ahan-kebid’ahan meski alasannya adalah karena cinta kepada Rasul.
🔵 Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:
الْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْإِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
🍃 Sederhana dalam Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam kebid’ahan (riwayat al-Marwaziy dalam as-Sunnah, al-Laalikaai dalam I’tiqod Ahlissunnah).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar